
Komunitas kreatif di Kota Bandung terus berkembang. Ada yang muncul, ada yang hilang, ada pula yang berkompromi dengan keadaan. Apa kabar komunitas kreatif Bandung yang bergerak di bidang “perbukuan”, termasuk pendirian toko buku? Sekitar dua tahun ke belakang, tidak akan sulit menyebutkan toko buku “jenis” ini–lazim disebut sebagai toko buku independen–di Kota Bandung. Akan tetapi, belakangan kita tampaknya harus mengernyitkan dahi, mengingat-ingat, sebelum menyebutkan sejumlah nama.Istilah toko buku independen/alternatif, menurut penulis, tidaklah tepat. Perdebatan mengenai penggunaan istilah ini terus saja bergulir.
Penulis lebih mengategorikan toko buku ke dalam tiga jenis (yang merujuk pada istilah retail dalam consumer’s goods). Pertama, toko buku hipermarket, yang menjual buku dalam bentuk grosiran dan dalam jumlah fisik serta order uang yang besar. Kedua, toko buku supermarket, yang skalanya lebih kecil dari hypermarket dan menjual buku dengan perlengkapan display dan skala toko yang cukup besar. Terakhir adalah toko buku minimarket, yaitu toko dengan skala fisik dan pengelolaan yang lebih kecil lagi. Pada kategori inilah toko buku yang sering disebut sebgai toko buku independen/alternatif penulis tempatkan.
Pengategorian seperti ini akan mereduksi pelabelan yang cenderung negatif pada toko buku minimarket. Pelabelan sebagai independen atau alternatif, malah cenderung mengesankan seolah toko buku yang tidak serius, tidak bonafide, dan terpinggirkan. Padahal, dalam kenyatannya, toko buku seperti ini mengambil peran cukup besar menjadikan buku akrab dengan generasi pop.
Pada perkembangannya, terlihat jelas berkurangnya toko buku minimarket. Pada 2005 dalam peta yang disusun oleh Tobucil bersama dengan Dipan Senja, tercatat lebih dari 15 toko buku minimarket yang muncul di Bandung (sedangkan jumlah kantong buku termasuk di dalamnnya komunitas dan penerbit berbasis komunitas tercatat ada sekitar 30-an lebih). Sekarang, jumlah yang banyak itu menyusut drastis hingga setengahnya.
Komitmen menjadi faktor dasar yang sering dilupakan oleh para pelaku buku baru. Semangat berwirausaha yang dimiliki oleh banyak anak muda, tidak (atau setidaknya) belum dibarengi konsistensi dalam melakukan suatu hal.
Dari jumlah hampir setengah pebisnis buku muda di Bandung yang “gulung tikar” itu, dari obrolan yang penulis lakukan, rata-rata terganjal masalah fokus. Ada yang personelnya sibuk mengerjakan skripsi, sampai mereka yang telah diterima kerja.
Kendala lain yaitu masalah tempat. Rata-rata umur kantong buku yang tutup adalah satu tahun. Para pengelola toko buku jenis ini rata-rata hanya menyiapkan dana untuk mengontrak tempat selama satu tahun. Sementara tahun berikutnya, mereka hanya bergantung pada prediski penjualan selama tahun berjalan. Bisnis buku tergolong bisnis yang pengembalian modalnya cukup lama. Maka, yang banyak terjadi adalah ketika masa kontrakan habis, omzet tidak sesuai prediksi, dana untuk kontrakan tidak ada, keputusan yang diambil adalah “gulung tikar”.
Hal ini juga mengindikasikan bahwa pebisnis buku muda di Bandung belumberpikir panjang dalam menyusun rencana bisnis mereka. Ini langkah keliru. Bisnis buku harus mempunyai rencana bisnis dalan waktu yang cukup lama disebabkan perputaran produk buku memang tergolong lambat. Sebagai contoh, buku trilogi Fira Basuki baru menjadi best seller ketika buku yang ketiga terbit. Begitu juga buku Andrea Hirata, baru booming besar-besaran, ketika masuk dalam acara Kick Andy.
Konsistensi dan perencanaan matang mutlak dimiliki mereka yang berniat masuk dalam dunia bisnis buku. Belajarlah dari mereka yang bertahan dan temukan ide kreatif baru. Bandung terkenal dengan ide-ide kreatif. Ide tidak akan pernah habis, hanya perlu diolah dan dikembangkan. Salam buku. (Wiku Baskoro, dipansenja@yahoo.com, wikubaskoro.blogspot.com) ***
Dimuat di koran Pikiran Rakyat, rubrik Literasi, Suplemen Kampus, 29 Nopember 2007
|
