Komunitas Penulis Indonesia
Search:   
Home    Search    Groups    Chat     Events    Games     Direktori     Invite    Help Signup    Login

(Cerpen) Ikan Asin
16:11 on 17/1/2008


        Hari ini Kosim bertugas mengantar paket ke sebuah pemukiman padat penduduk. Tak sungkan ia menjelajahi pemukiman model itu karena rumah kontrakannya juga terletak di kampung padat penduduk. Sebagai kurir perusahaan kargo ia sudah biasa mengantar barang ke berbagai tempat. Yang jadi soal adalah Kosim merasa sangat lelah dan lapar. Tadi pagi ia tak sempat sarapan karena kesiangan. Jadi meskipun hari ini sedikit paket yang diantar, Kosim merasa seperti telah bekerja selama satu hari penuh.
        Ia berniat menyelesaikan mengantar paket yang tinggal empat lagi sebelum makan siang. Setelah itu mencari warung nasi terdekat untuk mengisi perut. Untunglah beberapa paket yang diantarnya hari ini punya alamat tujuan yang berdekatan sehinga ia tak perlu banyak menguras tenaga mencari alamat si penerima paket.
        Tiba-tiba diendusnya bau ikan asin. Harum sekali. baru kali itu ia merasakan harumnya aroma ikan asin. Ikan asin itu segera membangkitkan rasa lapar Kosim. Apalagi jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Alangkah nikmatnya makan dengan lauk ikan asin. Ditambah sambal terasi yang pedas dan sedikit sayur asem, rasanya pasti lebih nikmat, Kosim menggumam. Cepat-cepat diantarkannya dua paket terakhir agar ia bisa segera makan siang. Ia begitu ingin mencicipi menu makan siang dengan ikan asin.
     
Padahal sebelumnya Kosim sering mencium aroma ikan asin hampir setiap malam. Istrinya bilang tetangga sebelah, Bu Asrul, memang sering menggorengnya karena Pak Asrul doyan ikan asin. Kosim sebal sekali bila hidungnya mencium bau ikan asin. Baunya begitu menyengat. Rasanya seluruh rumah jadi lengket tercemar bau ikan asin.
       Sekali waktu istrinya pernah membuat ikan peda yang dimasak dengan jagung manis dan potongan cabai hijau besar. Kosim urung memakan masakan istrinya begitu tahu ada ikan asin di menu makannya.

        Entah mengapa hari ini Kosim jadi
terbit air liurnya begitu mencium bau ikan asin. Padahal ikan asin itu hanya selintas lewat dihidungnya. Apakah ikan asin ini beda dengan ikan yang yang sering digoreng tetangganya, pikir Kosim. Baunya sama tetapi kenapa ia begitu ingin mencicipi ikan asin yang diendusnya barusan.
    Paket terakhir selesai diantarnya. Perutnya sudah melilit. Ia mencari warung nasi terdekat. Ditemukannya warung nasi didepan sebuah wartel. Warung nasi itu tak begitu besar tapi nyaman dan teduh. Segera ia memarkir dna mengunci motornya.
       “Makan apa, Mas?” tanya penjaga warung nasi ketika Kosim masuk.
        Mata Kosim melihat-lihat kearah etalase kaca tempat menghidangkan makanan. Ia mencariikan asin.
        “Ada ikan asin?” tanya Kosim.
        “Ikan asin ndak ada, Mas. Ikan asin kurang laku jadi sudah lama ndak masak ikan asin. Makan yang lain saja, Mas,” jawab penjaga warung nasi.
        Kosim sedikit kecewa karena tak bisa makan ikan asin. Ia ingin mencari warung nasi lain tapi perutnya sudah sangat lapar. Kosim memutuskan melahap nasi dan soto ayam.
       Pukul empat sore Kosim sudah sampai di rumah. Istrinya sedang menyuapi anak mereka yang berumur dua tahun. Digendong dan diciumnya pipi anak itu sebelum ia  duduk. Masih terbayang dalam benak Kosim nikmatnya makan ikan asin.
       “Sri, bisa tidak kamu goreng ikan asin untuk makan malam?” tanya Kosim sambil membuka sepatu dan kaos kakinya.
        “Ikan asin? Bukankah Mas tidak suka ikan asin? Kenapa Mas ingin makan ikan asin?” istrinya keheranan.
      “Tadi siang aku mencium bau ikan asin yang sedang digoreng lalu tiba-tiba aku ingin makan ikan asin. Bisa tidak kamu goreng ikan asin nanti malam?” ujarnya sambil memastikan istrinya akan menggoreng ikan asin.
     “Sudah sore begini warung Mpok Ijah tutup. Beli ikan asin dimana ya sore-sore begini?” istrinya berujar. “Bagaimana kalau besok saja, Mas? Besok pagi aku beli ikan asin lalu aku goreng sebelum kau pulang kerja,”
        Lagi-lagi Kosim kecewa. Ia tahu tidak banyak warung yang menjual ikan asin, apalagi sudah sore begini. “Kalau begitu besok jangan lupa goreng ikan asin, ya?” kata Kosim pada istrinya. Istrinya tersenyum mengangguk.
        Malam hari dilewatkan Kosim dengan membaca koran yang belum sempat dibacanya adi pagi. Kopi dan ubi goreng bikinan istrinya menemaninya membaca.
        Tiba-tiba Kosim mencium bau yang sangat ia kenal. Bau ikan asin! Hidung Kosim kembang kempis memastikan penciumannya. Tak salah lagi iakn asin yang ingin dimakannya kini menggodanya lagi. Pasti Bu Asrul yang menggorengnya. Kenapa Bu Asrul begitu sering memasak ikan asin? Pikirnya. Apakah Bu Asrul tidak tahu kalau ada tetangganya yang juga ingin makan ikan asin?
        “Sri!” Kosim memanggil istrinya. “Apa Bu Asrul lagi yang menggoreng ikan asin kali ini?” tanyanya.
        “Mungkin saja,” jawab istrinya.
      “Sebaiknya sekarang kamu ke rumah Bu Asrul. Tanya dimana ia beli ikan asin jadi kamu bisa membeli juga sekarang,” kata Kosim. Istrinya tersenyum geli karena Kosim terlihat seperti wanita hamil yang ngidam ikan asin.
        “Mas, Bu Asrul beli ikan asin di pasar, bukan diwarung Mpok Ijah,’ istrinya menjelaskan.
        “Lalu kenapa kamu tak membeli ikan asin di pasar tadi pagi?” Kosim berkata lagi.
        Istrinya mengerutkan kening. “Lho, Setahuku Mas tidak suka ikan asin. Mas sebal sekali kalau Bu Asrul menggoreng ikan asin karena baunya mengganggu hidung Mas. Jadi mana aku tahu kalau Mas hari ini ingin makan ikan asin,” jawab istrinya. Kosim diam saja mendengar jawaban istrinya.
        Pagi hari sebelum berangkat kerja, Kosim mewanti-wanti istrinya agar nanti malam memasak ikan asin. Ia ingin berbagai masakan yang semuanya berbahan ikan asin. Istrinya tak habis pikir meski menuruti keinginan suaminya.
        Siangnya setelah mengantar beberapa paket, Kosim makan siang di sebuah warung nasi. Kosim senang sekali karena di warung nasi itu ada menu sambal ikan asin. Dia makan dengan lahap. Satu piring habis, ia minta tambah. Penjaga warung nasi mencoba menawarkan menu lain karena dilihatnya Kosim hanya makan dengan sambal ikan asin.
        “Mau sayur, Mas? Biar tambah enak. Sayurnya tidak bayar kok,” tawar si penjaga warung mengira Kosim tak punya duit.
        Kosim menggeleng. Ia hanya meminta tambah es teh manis. Setelah piring kedua habis. Kosim minta tambah lagi. Kali ini ia juga minta kerupuk dan sambal. Walaupun sudah makan dua piring nasi, selera makan Kosim tak berubah. Ia tetap makan piring ketiganya dengan lahap. Sesekali ia menyeruput es teh manis karena kepedasan.
        “Ini ikan asin jenis apa? Rasanya enak!” tanya Kosim pada penjaga warung nasi. Kosim ingin istrinya juga membeli ikan asin ini untuk makan malam.
        “Oh, itu ikan jambal roti yang diasinkan. Memang enak tapi harganya agak mahal dibanding ikan asin lain,” jawab penjaga warung nasi.
        Kosim mengangguk-angguk sambil mulutnya terus mengunyah.
        Penjaga warung nasi berulang kali melihat kearah Kosim dengan wajah penuh tanda tanya. Baru kali itu dilihatnya pengunjung tambah makan sampai tiga kali dan lauknya cuma ikan asin. Piring ketiga dihabiskannya dengan tandas tak bersisa. Kosim masih ingin makan tapi perutnya sudah kekenyangan. Selesai merokok dan minum kopi Kosim membayar makanannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya mengantar paket.
        Sejam kemudian Kosim merasakan perutnya mulas. Perutnya tiba-tiba melilit. Ia berusaha menahannya sambil terus mengendarai motornya. Tak tahan ia mampir ke sebuah WC umum. Tak lama dari WC umum perutnya mulas lagi. Ia berhenti pada sebuah warung kopi numpang ke WC pada pemiliknya. Beberapa menit lagi ia mulas lagi. Begitu seterusnya sampai menjelang. Kosim terus-menerus mulas dan perutnya melilit. Ia terpaksa bekerja sampai agak malam karena beberapa paket belum diantarnya.
        Sesampainya di rumah Kosim sudah kelelahan. Ia memegangi perutnya yang masih terasa perih. Istrinya menyambut dengan khawatir.
        “Ada apa, Mas? Kok wajahmu pucat?” tanya istrinya. Kosim tak bisa menjawab. Ia memegangi perutnya. Mengira suaminya masuk angin istri Kosim segera membuatkan teh panas dan langsung meminta Kosim meminumnya pelan-pelan. Kosim menuruti perintah istrinya.
        “Setelah tehnya habis. Mas harus makan. Aku sudah masak ikan asin sesuai permintaan Mas. Ada ikan asin goreng, balado ikan asin, ikan peda tumis jagung muda, ikan asin sayur kuning,” kata istrinya.
      Kosim makin lemas mendengar istrinya menyebut jenis masakan ikan asin yang demikian banyak. Kosim menggeleng menolak makan.
        “Lho, kan Mas minta dibuatkan berbagai masakan ikan asin, aku sudah masak banyak lho! Setelah ini Mas makan dulu lalu mandi. Pasti akan segar lagi,” istrinya terus membujuk.
         Sekali lagi mendengar ikan asin perut Kosim kembali mulas dan melilit. Tak lama kemudian istrinya mengambil sepiring nasi dengan lauk ikan asin untuk Kosim. Melihat apa yang dibawa istrinya, Kosim lemas dan langsung tak sadarkan diri.


| Jangan Asal Copy Paste



Free Web Hosting with Website Builder

Comments (2)
hartono - 13:52 on 1/8/2008  [ message ]
he he... ikan asin jadi judul cerpen... besok TEMPE GORENG ya... atau sambel terasi... uhuy! cantikmdeh
jenggot - 10:37 on 25/1/2008  [ message ]
pertama baca, gw kira kosim ingin ikan adalah pesan terakhir sebelum menemui ajal.....

ini bersambung kan?
lanjutin lagi ya, dimana harus di jelaskan perjuangan dan perhatian si istri yang suka di sepelekan tiap suami/lelaki.
keren deh tulisannya.
maaf, mungin karna aku suka ada pesan moral di tiap tulisan/novel.
makasi


IndoBanner Exchanges

Copyright 2008, Penulis-Indonesia Inc. All Rights Reserved
FAQ | Terms of Service | Contact Us | Open Banner


Our Partner
Penulis-Indonesia.com - Komunitas Penulis Indonesia
WriterFun.com - Fun - Writers, Writing, Poetry, Novel, Creative Writing, Fiction Writing, Have Fun !!
www.InfoPromosi.com - Komunitas Promosi Online Interaktif & Info Bisnis