Komunitas Penulis Indonesia
Search:   
Home    Search    Groups    Chat     Events    Games     Direktori     Invite    Help Signup    Login

Maafkan Aku, Tuhan
19:42 on 27/1/2008


“Oma, aku ini seorang pesakitan. Aku seorang lesbian dan tidak ada orang yang mau menerima cinta seorang lesbian. Berkali-kali aku mencoba, berkali-kali itu pula aku gagal. Gagal bukan karena tidak cocok, tetapi gagal karena pada akhirnya aku menyadari bahwa mereka ternyata tidak dapat menerima aku seutuhnya.” Ari menangis menceritakan tentang siapa dirinya kepada Oma Ratna.


# NITA


“Ariii……” jerit Tita suatu siang ketika Ari sedang melamun sendiri di kantin sekolahnya. Ari hanya menoleh sekilas dan melanjutkan lamunannya itu. “Ari.. Loe kenapa sih? Dipanggilin dari tadi cuek aja.” Celoteh Tita yang tanpa disadari Ari, telah berdiri di samping Ari. Ari hanya melengos dan kembali diam. “Ri, gue denger-denger gossip, katanya loe sekarang pacaran sama Nita?” Ari yang diserang mendadak seperti itu terkaget dan hampir jatuh dari bangkunya. “Darimana loe denger gossip itu?” bantah Ari. “Ah..ngaku aja deh. Anak-anak udah pada ngomongin semua lagi, Ri," " Gue sahabat loe. Gue berharap loe bisa berbagi sama gue.” Ari masih tetap diam. Dia tahu, keadaan itu membuatnya seolah-olah berada di pinggir jurang. Dia memang berpacaran dengan Nita, tapi Nita sangat wanti-wanti untuk tidak mengekspos hubungan mereka itu kepada siapapun bahkan kepada sahabat-sahabat Ari termasuk Tita. Sementara disisi lain, ingin sekali rasanya Ari berteriak kepada semua orang bahwa Nita adalah pacarnya. Dia tidak terima setiap kali melihat teman-teman prianya berusaha menggoda Nita, setiap kali teman-teman prianya berusaha mendekatkan diri kepada Nita.


“Ariiiiiiiiiii………dari tadi gue ajak ngobrol ko loe cuma diem-diem aja kaya kebo teler gitu sih? Loe masih ngerti bahasa manusia kan?” cerocos Tita tanpa henti yang membuat Ari gerah dan secara refleks menanggapi, “Kalo iya kenapa? Puass?!?” bentak Ari yang membuat Tita terhenyak. Dia memang sudah lama mendengar berita itu, tapi ternyata mendengar gossip dan mendengar kenyataan itu berbeda sekali rasanya. “Gilaaa….loe ya!! Temen sendiri loe sikat!! Udah berapa lama? Ri, please deh..Nita tuh normal, jangan loe rusak donk. Cukup loe aja yang sakit diantara kita, jangan loe racunin anak orang!!” bentak Tita yang membuat beberapa orang yang berada di kantin itu menoleh kepada mereka berusaha mencuri dengar permasalahan diantara mereka. Ari hanya bisa diam dan tetap diam sampai akhirnya Tita menampar pipi Ari dan kemudian lari menjauh sambil berteriak, “Itu buat kelakuan minus loe!!! Dasar sakit!!”


*******


“Ya sudah, nanti sore aku jemput kamu ya. Ada apa sih ko sepertinya penting sekali. Kamu baik-baik aja akan? Ari berusaha menahan rasa penasarannya atas permintaan Nita untuk menjemputnya sepulang dari kantor karena ada yang mau dibicarakannya.


“Ri, hubungan kita sudah berjalan 3 tahun. Semakin hari rasa sayangku semakin bertambah. Tetapi kondisinya tidak memungkinkan untuk kita bisa terus bersama. Orang tuaku tidak mungkin mengijinkan aku menghabiskan hidupku denganmu sementara mereka sudah mulai mencium gelagat-gelagat dari kedekatan kita.”


“Lalu, mau kamu apa?”


“Ada seorang teman kantor yang memintaku untuk menjadi istrinya. Dia bilang dia sayang aku. Dia bilang selama ini dia sudah memperhatikan aku dan menurut dia, aku pantas menjadi istrinya dan aku sudah menyetujuinya untuk menjadi pacarnya dan menemui kedua orangtuanya.”


Ari benar-benar bagai tersambar petir. Hatinya bagai diiris pisau tumpul, sakit sekali. Mendadak dunianya berputar tanpa arah.


“Aku sayang kamu Nita, sayang sekali, malah mungkin ini yang namanya cinta. Kenapa Nita, kenapa kamu tega melakukan ini semua kepadaku? Apa salah ku? Aku rela melakukan apapun demi dapat hidup bersamamu. Tolong aku Nita, tolong jangan tinggalkan aku.” Namun sekeras apapun Ari menjerit dan memohon, keputusan Nita sudah bulat untuk menikah dengan teman kantornya itu demi membahagiakan kedua orang tuanya.


# TITA


Trereret….tereret…..tereret…..


Ari melihat nama yang tertera di layar HP-nya, NITA,


“Yes..ada apa, Nit?”


“Ri, besok kan ada reuni SMA angkatan kita di Café Cong. Kamu dateng ngga? Kalo mau dateng, bareng  yuu...”


“Pacarmu mana?”


“Dia ngga bisa ikut, harus jaga rumah katanya.”


“Ya sudah, oke…besok aku jemput kamu sorean ya.”


“oke, aku tunggu yaa.”


Ari mematikan telponnya dengan perasaan bingung antara senang dan sedih. Dia senang karena Nita memintanya menemaninya dan dia sedih mengingat semua yang pernah terjadi antara dirinya dan Nita.


“Hi…” “Haloo….” “Hei.. Apa kabar?” seru semua orang yang datang di acara reuni SMA itu, tak terkecuali Ari dan Nita. Mereka semua gembira, melepaskan rasa kangen setelah sekian lama tidak pernah bertemu karena selepas SMA  masing-masing sibuk berusaha melanjutkan hidup mereka. Tidak berapa lama, ada yang menepuk pundak Ari, “Hai Ari….apa kabar loe? Kenalin ini pacar gue.” Ari menoleh dan seketika melotot melihat siapa yang baru saja mencolek pundaknya itu. “Titaa…apa kabar? Mana pacar loe?” Seorang perempuan mengulurkan tangannya sambil tersenyum, “Rika.” perempuan itu  mengenalkan dirinya, “Gue pacarnya Tita.” Ari tersedak dan cuma bisa tersenyum kecut kepada Tita mengingat betapa dulu Tita habis-habisan memakinya karena hubungannya dengan Nita.


# SARI


Sari mengambil gunting yang tergeletak di atas meja dan menempelkan ujungnya yang runcing ke pergelangan tangannya. “Kalo kamu mau putus, aku lebih baik bunuh diri.”


“Tenang Sari, dengar dulu penjelasanku.”


“Aaahh….udah, ngga usah banyak alesan. Pokonya kalo kamu putusin aku, aku akan memotong nadiku!! Kamu mau putus?” Kamu mau mutusin aku? Setelah aku bekerja mati-matian demi kamu dan sekarang kamu mau ninggalin aku begitu saja sama seperti mantan suamiku dulu?!?”


“Sari, bukan begitu maksutku. Aku hanya cape dengan caramu seperti ini. Setiap kali kita ada masalah, pasti kamu mengancam mau bunuh diri. Setiap kali ada masalah, pasti kamu selalu mengait-ngaitkan aku dengan mantan suamimu.”


“Diaaammmmmm….aku bosan dengar ocehanmu. Sekarang kamu pilih, kita tetap lanjut atau aku bunuh diri sekarang juga!!”


“Oke…oke…aku akan tetap ada disampingmu sampai kamu bosan denganku. Aku tidak mau memutuskanmu.” Ari menyerah demi anak-anak Sari yang dari tadi sudah meringkuk ketakutan melihat amarah ibunya yang membabi buta itu.


***********


“Sayang, tadi aku ke rumah Mbah Kunti. Ini aku dikasih air. Katanya untuk kesehatan. Kamu minum juga ya, biar sehat juga.”


Ari hanya mengangguk mengiyakan tanpa memberikan komentar lain. Dia sudah hafal betul sifat Sari yang satu ini, senang sekali mendatangi orang pintar untuk menanyakan segala hal dan kemudian mempraktekkannya di rumah dengan segala tarian-tarian anehnya. Dia menyadari salah satu sifat aneh Sari itu merupakan hal yang itdak wajar tetapi anehnya, dia tidak dapat berbuat apa-apa selain menuruti semua kemauan Sari termasuk menjaga kedua anaknya disaat Sari bersenang-senang dengan teman-temannya dan tetap tinggal di rumah Sari walaupun adiknya menelponnya memintanya untuk pulang karena Ibu mereka sakit.


***********


“Kamu tadi jalan dengan siapa? Kelihatannya mesra sekali?” tanya Sari di telepon suatu hari ketika Ari baru saja mengantarkan Ina pulang ke rumahnya, 6 bulan setelah akhirnya Ari berhasil memutuskan Sari dengan penuh darah dan keringat. “Kenapa memangnya? Kamu tau darimana?”


“Alaahhh….ngga usah banyak tanya deh. Pelacur mana lagi yang kamu tempel? Gilaaa ya kamu, aku masih sakit hati karena keputusan kamu itu sekarang kamu sudah enak-enakan dengan perempuan lain.”


“Apa sih mau kamu, Sari? Sudahlah, diantara kita sudah tidak ada apa-apa. Tolong kamu jangan ganggu hidup aku lagi.”


“Heehh, pelacur itu sudah meracuni otak kamu ya? Sekarang kamu berubah!! Aku kasih tau aja ya, pelacur yang kamu pacarin sekarang itu bukan perempuan baik-baik. Dia cuma mau manfaatin kamu aja. Dia Cuma mau morotin kamu doank. Aku bisa liat dari auranya yang negative. Kamu tau ngga sih, aku itu masih sayang banget sama kamu dan cuma aku yang bisa memberikan rasa cinta yang paling besar di dunia ini. Aku melihat muka perempuan tadi itu serem, seperti hantu yang mukanya totol-totol. Ari, perempuan itu mau berbuat jahat sama kamu. Kamu harus ninggalin dia.”


“SARI STOP!! Aku muak dengan semua dukun-dukun kamu itu. Tolong biarkan aku menjalani hidupku sendiri dan tolong kamu jalani hidupmu sendiri.”


“Kita lihat aja nanti. Kamu jangan ngemis-ngemis balik ke aku kalo ternyata perempuan itu memang berbuat jahat sama kamu.” Sari membanting teleponnya sambil mendengus kesal.


************


Kamu periksa mobil kamu sekarang. Itu peringatan dari aku. Tinggalkan pelacur jahat itu atau aku akan bertindak yang lebih parah. Ari tertegun membaca SMS yang dikirimkan Sari kepadanya. Secepat kilat dia lompat dari bangku kantornya dan berlari menuju mobilnya. Badannya lemas tatkala melihat mobilnya yang sudah penuh dengan goresan-goresan yang lumayan dalam. Dia tidak tahu harus bercerita kepada siapa, dia hanya bisa berteriak sambil menahan agar air matanya tidak jatuh.


# INA


Ari tersenyum-senyum sendiri di balik meja kerjanya. “Kanapa loe, Ri? Kesambet?” tanya Niko di suatu pagi ketika Niko mendapati Ari sedang tersenyum-senyum sendiri sementara kondisi computer di depan wajahnya dalam keadaan mati. “Eh..Mas Niko, ngga ko lagi pengen aja ketawa-ketawa daripada gue koproll.”


Hari itu Ari memang sedang bahagia. Ina, cewe incerannya selama ini akhirnya mau menerima cintanya dan tadi malam, dia mendapat julukan sayang dari cewe barunya itu, KITTY. Kata Ina, dia lebih cocok dipanggil Kitty karena sebenarnya di balik penampilannya yang sedikit garang itu tersimpan sifat Kitty yang sangat mendalam. “Ah, hidup ini memang indah.” Bisik Ari dalam hati.


********


“Kitty, nanti malam diajak Lia clubbing, ikut yu?” tanya Ina di suatu sore ketika Ari sedang mempersiapkan materi meeting dengan salah satu clientnya. “Boleh aja, jam berapa? Aku ada meeting sampe jam 8 malam kayanya.”


“Yeee….seperti biasa aja kali, jam 11-an gitu deh.”


“Oke, kelar meeting aku kabarin kamu ya. Kamu udah makan?”


“Udah tadi makan deket kantor. Kamu juga jangan lupa makan ya. Jangan kebanyakan meeting, ntar sakit lho.”


“Iya….love you.”


“Love you more…”


klik… telepon ditutup. Konsentrasi Ari langsung buyar. Malas rasanya mengikuti meeting sore itu karena dipikirannya sudah ingin cepat-cepat bertemu Ina.


********


“Kitty, aku bole ngomong sesuatu dengan kamu? Kapan kamu ada waktu?” tanya Ina suatu hari. “Boleh, kamu mau tanya apa?” Ari bingung dengan nada bicara Ina yang mendadak serius, tidak seperti biasanya. “Enakan kita ketemuan aja deh, jangan di telepon, ngga enak ngomongnya.” “Oke, aku jemput kamu sekarang ya.”


“Kitty, sebelumnya aku minta maaf. Aku ngga pernah berniat nyakitin hati kamu. Aku tau ini semua salah aku. Kamu berhak untuk marah atau kalau mau kamu boleh pukul aku sepuas kamu.” Jelas Ina dengan nada sendu. Ari yang diserang dengan kalimat-kalimat itu merasa ada sesuatu yang tidak beres, “Ada apa? Kamu bilang aja sama aku. Aku ngga akan marah ko. Aku sayang kamu, Ina, ngga mungkin aku marah apalagi mukulin kamu. Ada apa sih, cinta?” tanya Ari dengan rasa penasaran yang teramat sangat tapi sedikit takut juga. Berbagai pikiran jelek sudah melintas di kepalanya namun dia berusaha tetap terlihat tenang.


“Sepertinya hubungan kita ini ngga bisa dilanjutin lagi. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tetap tidak bisa.” Pengakuan Ina itu membuat Ari terdiam beberapa menit, dia blank dan rasanya seperti mau pingsan.


“Ina, kamu kenapa? Ada apa? Apa keluargamu mengetahui hubungan kita? Apa mereka melarang kamu menemui aku lagi? Apa kamu jatuh cinta dengan orang lain? Ina, pleaseeee…..jangan tinggalkan aku.”


“Bukan, bukan karena itu. Keluarga aku tidak mengetahui hubungan kita dan kalaupun mereka mengetahui, mereka pasti akan menyerahkan semua keputusan kepada aku walaupun aku tahu mereka pasti akan kecewa kalau aku tetap memilih kamu. Ada satu hal yang ingin aku utarakan, tapi sepertinya berat sekali untuk diutarakan karena aku tau hal ini pasti akan menyakitkan sekali.”


“Pleaseee Ina, jangan buat aku bingung seperti ini. Ada apa.”


Beberapa menit Ina terdiam dan tidak berani menatap mata Ari. Dia benar-benar merasa seperti sedang melakukan pembunuhan terhadap orang yang benar-benar sayang kepadanya. “Aku tidak bisa melajutkan hubungan ini. Aku tidak mencintai kamu Ari. Selama ini aku berusaha menghilangkan pikiran itu tapi semakin hari aku melihat bahwa perasaan kamu semakin besar kepadaku dan aku tidak dapat menerima itu. Aku normal. Aku menerima cintamu hanya karena aku ingin membuktikan apakah aku punya bakat untuk menjadi seorang lesbian, tapi ternyata tidak. Aku risih setiap kali kita bermesraan. Maafkan aku, Ari. Tolong maafkan aku.”


Ari hanya bisa terdiam dan tak lama kemudian menangis, “Ina, mau kamu itu apa? Kamu mau aku operasi kelamin? Akan aku lakukan demi kamu kalau kamu malu berpacaran dengan seorang wanita. Apappun yang kamu minta akan aku jalani asalkan kamu tidak meninggalkan aku.”


“Buat apa operasi kelamin, toh sama saja, kamu tidak akan pernah bisa memberikan aku anak.”


“Kita cari donatur sperma, kita besarkan anak kita bersama-sama. Ina, aku cinta kamu, aku sudah berniat untuk tinggal serumah dengan kamu. Aku sudah menabung untuk kita menikah di Belanda atau Bangkok. Aku sudah menyicil apartemen untuk kita tinggali bersama. Tolong jangan kamu hancurkan mimpi-mimpiku, Ina.” Ratap Ari dengan air mata yang sudah berderai.


“Maafkan aku Ari. Aku sayang kamu, tapi keadaan tidak mendukung kita. Aku benar-benar tidak bisa. Aku masih mengharapkan pasangan aku adalah seorang laki-laki tulen. Maafkan aku, Ari. Selama ini aku tidak pernah merasa nyaman ada di sebelah kamu bukan karena kamu menyebalkan. Tidak, kamu amat sangat menyenangkan, tapi karena kamu seorang perempuan.”


“Kamu jahat, kamu benar-benar jahat!! Jadi selama ini aku hanya dijadikan kelinci percobaan saja!! Ina, aku ngga nyangka kamu sekejam itu!! Dari awal kamu tahu kalau aku seorang perempuan, dari awal kamu tau kalau aku ‘sakit’, dari awal kamu sudah tau kalau AKU SEORANG LESBIAN, tapi kamu terima juga cintaku hanya atas dasar rasa penasaran kamu. Kamu benar-benar tidak punya perasaan.” Ari berusaha menahan emosi yang bergejolak di dadanya, tidak berapa lama kemudian, “Mungkin aku memang sudah ditakdirkan untuk hidup sendiri di dunia ini. Terimakasih untuk semua kebaikan kamu selama ini, semoga kamu mendapatkan pendamping seperti yang kamu mau. Aku tetap sayang kamu sampai kapan pun, Ina.” Rintih Ari sambil mematikan rokoknya dan menghabiskan sisa minumannya.


# FARAH


“Sayang kamu lagi apa? Aku kesepian ni. Aril lagi keluar kota sampai lusa. Kamu mau kesini ngga?” tulisan yang tertera di layar HP Ari. Ari yang memang sedang menganggur di rumah langsung berganti pakaian dan bersiap-siap menemui sang kekasih hatinya, Farah.


“Kasiaann kamu kesepian. Nih aku udah dateng, udah ngga kesepian lagi kan?” tanya Ari sambil mencium bibir Farah sesampainya dia di rumah Farah. “Ngga donk, kan udah ada kamu.” Farah menjawab sambil menggelendot di bahu Ari dan menuntun Ari menuju kamarnya.


“Hai Ari, kapan datang?” tanya Seni, adik Farah yang baru pulang dari kantornya. “Eeengg…baru aja, ini gue lagi ada kerjaan sama kaka loe.” Ari sengaja berbohong karena sebelumnya Farah sudah mewati-wanti untuk tidak memberitahukan kepada siapa-siapa mengenai hubungan mereka itu dan demi menghargai Farah, Ari mengikuti saja kemauan Farah walaupun masih ada rasa trauma di dirinya mengenai hubungan backstreet namun dia harus menerima kenyataan bahwa hubungan yang dia jalin memang hubungan yang dilarang dalam pandangan masyarakat.


************


“Sayang, kamu belum mentransfer uang arisan aku bulan ini lho. Nanti sore aku janji dengan teman-teman untuk datang ke acara arisan, masa aku belum bayar, kan malu.” Rayu Farah pada suatu hari. Ari yang memang sering membayarkan uang arisan Farah tiap bulannya mulai merasa berat untuk melakukannya. “Sayang, aku lagi ngga punya uang. Masa uang kamu udah habis sih?”


“Ko kamu jadi pelit sih? Dulu aja mantan-mantatn kamu, kamu beli’in mobil, sekarang aku minta 5 juta aja ga boleh. Uang aku kan udah aku belikan keperluan pribadiku sendiri. Peralatan make up aku sudah habis, belum lagi biaya perawatan tubuh aku. Pokonya aku mau sore ini uang itu udah ditransfer.”


“Tapi ak……” belum selesai Ari berbicara, telepon sudah ditutup. Ari hanya bisa mendengus kesal.


************


“Farah, mau kamu bawa kemana hubungan kita ini? Aku semakin hari semakin ragu.”


“Ari, kamu jangan pernah berpikir begitu. Aku sayang kamu tapi sekarang ini waktunya belum tepat. Aku sedang mencari moment yang pas untuk aku bisa menceraikan suamiku.”


“Iya, tapi sampai kapan, Farah? Sampai kapan aku harus menunggu?”


“Kamu sabar aja. Yang kau butuh dari kamu sekarang ini hanya kesabaran. Aku juga butuh waktu untuk menjelaskan kepada keluargaku kan?”


“Bagaimana kamu mau menjelaskan kalau sekarang saja aku tidak boleh membicarakan tentang hubungan kita kepada siapapun dan kamu pun sering menolak jika aku ajak pergi berdua ke tempat-tempat umum. Beri aku satu kepastian, Farah.”


“Pokoknya kamu percaya aja deh. Suatu saat nanti aku akan membuktikan semua janji-janjiku kepadamu. Aku benar-benar mencintaimu, Ari.”


Ari hanya bisa diam mendengar janji kesekian ribu kalinya dari Farah untuk memberinya kepastian mengenai hubungan mereka. Bukan apa-apa, Ari tidak mau tertipu lagi untuk kesekian kalinya. Dia tidak mau dijadikan bahan mainan lagi oleh pacar-pacarnya. “Oke, aku tunggu janji kamu itu tapi aku tidak bisa berjanji apa-apa karena kesabaranku pun ada batasnya.”


“Maksut kamu apa? Kamu mau kita udahan? Ya sudah terserah kamu saja. Kamu tau kondisi aku dari awal kalau aku sudah punya suami dan aku sudah menjelaskan kalau aku sudah tidak cinta lagi kepada suamiku dan aku berniat untuk menceraikannya. Sekarang kenapa kamu protes akan kondisiku itu?”


“Tapi bagaimana aku bisa percaya begitu saja kalau setiap malam aku selalu mendapat laporan dari kamu bahwa kamu mau membuatkan makanan untuk suamimu, kalau kamu mau membuatkan minuman untuk suamimu dan paling menyakitkan adalah aku harus mendengar bahawa kamu masih satu ranjang dengan suamimu. Mungkin dulu aku masih bisa menerima, tapi sekarang…rasanya sakit setiap kali mendengar itu.”


“Ah…kamu jangan mulai lagi deh. Aku cape berantem terus. Aku pusing. Pokoknya aku akan membuktikan semua omongan aku itu suatu saat nanti. Antar aku pulang sekarang, aku tidak mau suamiku melihat aku bersama kamu karena sepertinya dia sudah mulai curiga dengan hubungan kita ini.”



=======================================



Ari masih menangis dipangkuan Oma Ratna. Ya, Oma Ratna, salah satu penghuni panti jompo tempatnya menghabiskan waktu luang disaat pekerjaannya tidak terlalu menuntut tenaganya. Semenjak Farah tidak pernah bisa membuktikan semua janjinya, Ari bertekad untuk menjauhinya. Dia pergi dan tak kembali. Dia mencoba menjalani kehidupannya sendiri dengan mengabdikan dirinya di sebuah panti jompo sampai entah kapan.


“Aku tidak pernah minta untuk dilahirkan menjadi seorang lesbian, Oma. Aku hanya menginginkan hidup tenang, hidup normal tanpa tekanan dari siapapun atas segala sesuatu yang bukan merupakan kehendakku.”


Oma Ratna hanya bisa terdiam sambil terus mengelus kepala Ari dengan penuh kasih sayang dan dengan perasaan sedih.


“Aku benci ayahku yang telah membuatku seperti ini, yang telah membuatku membenci laki-laki karena kelakuan-kelakuan kasarnya dan perbuatan nistanya dengan menikahi wanita lain tanpa seijin ibuku.” Keluh Ari masih dengan air mata berderai, “Apa salahku, Oma? Apa mungkin Tuhan lupa bahwa Dia pernah menciptakan Aku di dunia ini?”


“Hush…” timpal Oma Ratna, “Tidak baik kamu menyalahkan Sang Pencipta. Semua makhluk diciptakan dengan tujuan masing-masing dan pasti dengan suatu kebaikan. Mungkin kamu hanya perlu bersabar sampai kamu tahu kemana sebenarnya jalan hidupmu itu. Oma sayang kamu. Kamu sudah Oma anggap cucu Oma sendiri. Jadi Oma tidak mau melihat kamu bersedih begitu karena masih banyak kebahagiaan lain yang ada dalam hidupmu hanya saja kamu tidak pernah mau berusaha melihat ke arah situ ”



| Jangan Asal Copy Paste



Free Web Hosting with Website Builder

Comments (4)
azuhari - 02:03 on 18/2/2008  [ message ]
Cinta letaknya di hati
Rasa letaknya di jiwa
Ikatlah hati dan jiwa itu dengan tali ketenangan
Maka engkau akan menemukan rahasia besarnya.
ismail - 19:40 on 13/2/2008  [ message ]
keren bu guru lesbianisme
nyanalubis - 14:58 on 2/2/2008  [ message ]
Waduuhhh......ga kebalik tu?? Harusnya aku yang diajarin sama Mas Ferry ini..... :)

Ajarin donk, Maasss....ya....ya...ya..... :)
Ferry - 16:02 on 1/2/2008  [ message ]
Cara berceritamu asyik, Nyana.....
Seneng bacane. Ajarin dong.......


IndoBanner Exchanges

Copyright 2008, Penulis-Indonesia Inc. All Rights Reserved
FAQ | Terms of Service | Contact Us | Open Banner


Our Partner
Penulis-Indonesia.com - Komunitas Penulis Indonesia
WriterFun.com - Fun - Writers, Writing, Poetry, Novel, Creative Writing, Fiction Writing, Have Fun !!
www.InfoPromosi.com - Komunitas Promosi Online Interaktif & Info Bisnis