Asih
dan Kasih…
dimanja oleh ayahnya yang terkasih
Ibunya seorang pensiunan…
Sibuk arisan…
Sibuk perkumpulan…
Sibuk pengajian…
Asih dan Kasih tumbuh bersama….
kakak jauh dengan mereka…
tapi, Asih tahu kakak selalu bertanya…
adakah kami baik-baik saja…
suatu waktu Asih sakit…
beberapa hari, Asih menangis…meringis…
“Adakah aku ‘pergi’ hari ini?”
“Sudikah diriNYA ‘mengetuk’ Ruh-ku kini?”
Asih tahu….
Ia harus tetap teguh…
tanpa mengeluh…
menyebarkan tawa ke seluruh…
tiba-tiba Kasih sakit….
sakit sekali…
Asih kembali menangis….
“akankah Kasih pergi?”
“Ia baik-baik saja…”
yang dikatakan ‘penyembuh’ itu…
melegakan nafas kami…
Ayah, Ibu, dan Asih….
suatu hari…
Asih dan Ibu pergi…
menjemput Kasih…
sayang, Kasih tak mau ikut pergi…
Ibu menangis, jengkel, dan marah…
Ia kecewa…
Ia bercerita pada Asih..
“betapa khawatirnya Ibu terhadap Kasih”
Asih terdiam…
indra pengecap itu tertutup…
terkunci…
sembari menahan tangis…
Asih tahu…
Kasih-lah yang paling disayang Ibu…
Asih tahu…
Kasih-lah yang paling disayang, Kakak, Ayah, dan Ibu…
Asih juga ingin disayangi…
Asih selalu berusaha jadi yang terbaik…
agar Asih disayangi…
tapi Asih mengerti…
rasa sayang ada…
hanya karena mereka…
mengalah dan mencoba memahami…
seandainya Kasih tahu…
akankah ia bersikap beda dari hari itu?
Seandainya Kasih tahu…
adakah ia benci pada Asih?
ASIH…
masih selalu berdoa agar tidak jadi anak durhaka…