
Ia yakin pada filosofi abandonment* yang lebih kurang terefleksi dari paham yang ia anut: liberalisme. Ia yakin bahwa satu2nya yang membuat kita bahagia atau sedih adalah diri kita sendiri. Manusia memiliki akal untuk mengatur segalanya. Pikiran, perasaan dan gerak tubuh. Maka seharusnya... manusia bisa selalu bahagia. "Anggap saja" kesedihan itu adalah satu kata tanpa arti. Yang kita butuhkan adalah... IMAJINASI.
"Everything means imagination. Imagination means everything." Itulah kalimat faforitnya.
Saya hanya menghela napas berat sambil merangkulnya, merapatkan tubuh saya yang tebal oleh lemak dengan tubuh kurusnya yang bau dan lengket oleh debu, daki dan keringat. Malam demi malam kami lalui bersama di pangsapurinya, memandangi cahaya-cahaya yang tersebar dari bangunan-bangunan lain yang bisa kami pantau lewat jendela ini. Jalan Titiwangsa, Kuala Lumpur. Residen elit, dekat dengan taman, danau dan klub golf. Di atas danau itulah Eyes on Malaysia dibangun. Bianglala ukuran medium yang diharapkan mampu mencakup panorama di atas ibukota. Setidaknya dalam radius 15-20 KM dari Petronas Twins Towers, KLCC.
Ketika ia menyandarkan kepalanya di bahu saya, bianglala itu masih berputar. Menghipnotis perlahan-lahan. Pandangannya terpusat pada poros benda putih itu. Fokus… nanar… fokus… nanar… fokus... nanar.
Ia berkata kepada saya, "Seandainya lo bisa gw sentuh... Gw sama sekali gak keberatan jika gw dibawa ke psikiater dan dia bilang, "Anda POSITIF menderita skizofrenia." Gw sama sekali gak peduli. Gw hanya butuh seseorang untuk mengerti gw just the way you do. Yang mencintai gw apa adanya. Yang menghargai dan mendukung bakat gw. Yang gak menuntut gw untuk jadi orang lain yang dia mau. Yang gak menilai dan menghukum gw seenak jidatnya...
Yang bilang maaf jika dia salah..."
Dia menangis. Saya menggenggam tangan kanannya.
"Gw pikir..." lanjutnya, "Gw gak bisa menemukan kebahagiaan dari orang lain, maka gw mencarinya di dalam diri gw sendiri..."
"Kebahagiaan itu..." saya menghapus air mata yang mengalir di kedua pipinya. "Dikasih dari Tuhan. Jadi jangan minta ke orang lain, apalagi ke diri sendiri. Minta ke Tuhan."
Kedua matanya yang masih tertuju ke bianglala itu terbelalak lebar2. Bianglala itu telah berhenti berputar. Tapi bukan itu alasan kenapa dia kaget. Dia ingat sesuatu. Yang tanpa sadar ia lupakan. Yang tanpa sadar ia cari. Lalu kini ia temukan.
Aku lenyap bersama kegelapan yang diterangi cahaya subuh. Aku lenyap bersama duka dan keputusasaannya. Aku lenyap bersama air mata dan dirinya yang dulu. Aku hanyalah sebuah nama yang mungkin akan tetap dikenang sebagai salah satu tokoh di dalam novelnya.
Tugasku telah selesai. Sebuah awal telah bertemu dengan sebuah akhir.
* In the ethical thought of such existentialist writers as Sartre and Heidegger, abandonment is the awareness that there are no external sources of moral authority. No deity, for example, provides us with guidance or direction; we achieve an authentic life by depending only on ourselves.
|
