Komunitas Penulis Indonesia
Search:   
Home    Search    Groups    Chat     Events    Games     Direktori     Invite    Help Signup    Login

HAH? Blog Posting yang Aneh...
09:30 on 23/3/2008



Writing test, semester II, section 3.

Topic: MODERNIZATION IS HARMFUL TO THE SOCIETY. Do you agree?

Tentu saja saya tidak setuju. Modernisasi hanya merupakan satu fase dari revolusi pikiran manusia. Yang berbahaya itu bukan modernisasi, tapi masyarakat itu sendiri. Lha wong kita yang menciptakan modernisasi, kita yang menggunakan dan bahkan MEMINTA modernisasi di berbagai aspek kehidupan, maka tak ada alasan bahwa modernisasi berbahaya bagi kita, sebagai anggota dari masyarakat. In a nutshell, modernization exists because of the society existence itself. Doesn't it?

Premonition of passing the writing test: 35%.



Duduk di kursi yang selalu berbeda, yang ia cari selalu sama: usb port dan headset yang berfungsi. Ia berhenti menulis novel terakhirnya, tapi tak juga ia delete. Ia menunggu sampai ide2nya terkumpul untuk melanjutkan tulisan itu. Sebagai seorang penulis amatir yang baru menghasilkan beberapa karya, ia tahu ia harus lebih sering membaca buku dan menonton film (atau mereka hanya alasan untuknya menghabiskan waktu lebih banyak lagi untuk menyendiri di kompartemen 12 petak itu?), dan ia butuh lebih banyak referensi sekarang...



Sebelumnya ia sempat mengetik sebuah blog posting tentang orangtua (terinspirasi dari blog posting sepupunya), sesuatu yang baginya sangat menyakitkan bahkan untuk menyebutkan kata berinisal OT itu. Tapi seperti biasa, sebagai seorang liberalis ia mampu menyampaikan opini secara diplomatis, tanpa menghakimi siapapun. Ia tahu bahwa orangtua adalah pasangan nomor satu yang harus seorang anak hormati dan cintai. Karena jasa mereka tak terbalas dengan apapun. Apapun. APAPUN. Tapi... orangtua hanyalah manusia biasa yang pernah melakukan kesalahan. Setiap kesalahan pasti ada hukumannya. Itu janji Tuhan.

Sejak menjadi seorang liberalis, akal sehatnya mampu mengobati sakit hatinya. Dan kini ia hidup sebebas udara. Tanpa rasa takut. Mungkin kadang ia bimbang, tapi setidaknya pilihan terakhir yang ia putuskan tak akan membuatnya menyesal.

Mereka sebut kehidupan adalah sebuah papan catur, dan setiap individu adalah satu2nya bidak catur untuk skakmat bidak catur lain. Argumen yang cukup filosofis. Tapi baginya, kehidupan hanyalah satu materi yang bisa ia cincang menjadi fragmen2 yang bisa ia sebarkan ke udara atau ia hanyutkan ke aliran air... Ia bisa muncul sebagai manusia, sebagai seorang anak yang membenci isi rumahnya, sebagai seorang pelajar cupu, seorang mahasiswa penyendiri, seorang penulis amatir, blogger, chatter yang aneh, seorang gadis buruk rupa, seorang cowok cool, seorang single, seorang gay, bahkan seorang monster.

Di dalam kehidupan ini ia bisa menjadi apa saja. Apa saja. APA SAJA. Ia bukan satu2nya bidak catur untuk skakmat bidak catur lain. Karena ia tak punya kawan. Ia tak punya lawan. Tapi ia tak sendirian.

Karena... ia hanya salah satu molekul pembentuk jaringan kehidupan. Wis iku thok.



Seorang teman datang kepadaku dan berkata, "I feel like avoided, rejected and left alone." Aku tak tahu harus berkata apa kepadanya, karena jika aku berada di posisi temanku itu, aku tahu aku memiliki opsi yang lain untuk tidak merasa kecewa, sedih, marah, atau bahkan bersalah lalu menyesal. Selalu ada pilihan yang lain. Selalu ada kesempatan yang lain. Dan dunia bagiku bukan hanya apa yang aku lihat, aku dengar, aku cium, aku rasa... tapi apa yang aku yakini.



Mungkin aku terlalu kekanak2an. Aku tak bisa, tak mau membedakan realita dan surealisme. Aku tak ubahnya seorang Peter Pan yang terperangkap di dalam Neverland. Atau aku hanya Wendy, sebagai tokoh utama kedua sekaligus pencerita... Ah, terserah.

Menurutnya (notabene: nya menunjukkan kepemilikan dari seseorang yang kuceritakan dari paragraf kelima sampai paragraf kesepuluh) jika dia berada di posisi temanku itu, ia akan menghabiskan waktu untuk menulis dan menulis dan menulis dan membaca buku dan menonton film dan mudik ke JKT untuk belanja lebih banyak buku dan film dan kembali ke KL untuk menulis dan menulis dan menulis dst...

Entah dia itu lugu atau bodoh atau cuek atau tak berperasaan atau hanya berpura2 tegar, ia bilang, "Matikan pikiran dan perasaanmu... lalu kau berada di ruang hampa udara."

Dan ketika kami sarapan pukul 5 sore itu di kantin, dia berkata, "Imagination means everything. Everything means imagination."

Sudah kupikirkan berulang kali... tapi ah. Tetap saja aku tak mengerti.


| Jangan Asal Copy Paste



Free Web Hosting with Website Builder

Comments (0)


IndoBanner Exchanges

Copyright 2008, Penulis-Indonesia Inc. All Rights Reserved
FAQ | Terms of Service | Contact Us | Open Banner


Our Partner
Penulis-Indonesia.com - Komunitas Penulis Indonesia
WriterFun.com - Fun - Writers, Writing, Poetry, Novel, Creative Writing, Fiction Writing, Have Fun !!
www.InfoPromosi.com - Komunitas Promosi Online Interaktif & Info Bisnis