penulis
  Advanced Search
Home    Search    Chat     Events     Forum     Direktori     Invite    Help Signup    Login

Writers Comunity and Writing resources, news and discussion for authors / writers, editors, and publishers



Free Web Hosting with Website Builder

10:03 23/3/2008 - 2 comments - [ post comment ]

Sepertinya aku bisa mengerti perasaan Karen Eiffel yang telah delapan kali membunuh tokoh utama dalam tulisannya. Hanya saja kebetulan, Harold Crick ternyata fakta dan dia berhasil menyadarkan Kay dan aku bahwa... dia tidak pantas mati, setidaknya untuk saat itu. Orang seperti dialah yang kita butuhkan untuk Bumi yang semakin penuh ini. Aku tidak tahu pemikiran Tuhan tapi... kelahiran dan kematian bukanlah soal siapa yang pantas tinggal atau pergi. Hei, ini bukan American Idol atau sejenisnya. Semua itu adalah soal waktu.

Tapi dari film yang mengingatkanku pada posisi avatar Sang Bintang Jatuh (Diva) dalam trilogi Supernova-nya Dee itu, aku mendapatkan inspirasi baru tentang bagaimana aku akan menggunakan waktu hidupku. Selama ini, walaupun aku telah kehilangan banyak hal, tapi aku juga terus mendapatkan hal baru setiap detiknya. Apa yang telah terhapus dari wajahku adalah EKSPRESI, sehingga aku lebih membosankan dan tak tahu bagaimana memulai percakapan, mempertahankannya agar tetap menarik dan mengakhirinya dengan meninggalkan rasa tak puas dan rindu kepada teman bicara. Mungkin karena aku semakin dewasa, lebih realistis, lebih jujur dan depresi karena banyak hal...

Tapi aku tahu aku tak perlu menjadi orang yang dikagumi orang banyak untuk bertahan hidup. Kembali kepada paragraf satu dalam tulisan ini, ini bukan American Idol atau sejenisnya. Walaupun menjadi orang yang menggunakan lebih banyak waktunya untuk menyendiri, kupikir justru aku memiliki lebih banyak kesempatan untuk menulis jika itu adalah apa yang bisa kulakukan dan menurutku menyenangkan. Kenapa tidak?

Entahlah apa yang ingin kukatakan pada siapapun yang membaca tulisan ini. Sejujurnya aku bingung dengan penyampaian topik utama yang bertele2, berputar2 dan tak fokus ini. Maksudku, kenapa aku harus depresi karena undergraduate program yang bahkan belum kumulai, karena masa depan yang bahkan hanyalah satu frasa yang terdiri dari dua kata dan sembilan huruf... atau bahkan karena obesitas yang membunuhku perlahan2 ini?

Aku tak tahu kapan, di mana dan bagaimana aku mati. Dan lagipula dicabutnya nyawaku bukanlah urusanku. Itu urusan Tuhan dan malaikat maut. Jadi, seharusnya aku "menikmati" hidup.
09:39 23/3/2008 - 1 comments - [ post comment ]

Ia yakin pada filosofi abandonment* yang lebih kurang terefleksi dari paham yang ia anut: liberalisme. Ia yakin bahwa satu2nya yang membuat kita bahagia atau sedih adalah diri kita sendiri. Manusia memiliki akal untuk mengatur segalanya. Pikiran, perasaan dan gerak tubuh. Maka seharusnya... manusia bisa selalu bahagia. "Anggap saja" kesedihan itu adalah satu kata tanpa arti. Yang kita butuhkan adalah... IMAJINASI.

"Everything means imagination. Imagination means everything." Itulah kalimat faforitnya.

Saya hanya menghela napas berat sambil merangkulnya, merapatkan tubuh saya yang tebal oleh lemak dengan tubuh kurusnya yang bau dan lengket oleh debu, daki dan keringat. Malam demi malam kami lalui bersama di pangsapurinya, memandangi cahaya-cahaya yang tersebar dari bangunan-bangunan lain yang bisa kami pantau lewat jendela ini. Jalan Titiwangsa, Kuala Lumpur. Residen elit, dekat dengan taman, danau dan klub golf. Di atas danau itulah Eyes on Malaysia dibangun. Bianglala ukuran medium yang diharapkan mampu mencakup panorama di atas ibukota. Setidaknya dalam radius 15-20 KM dari Petronas Twins Towers, KLCC.

Ketika ia menyandarkan kepalanya di bahu saya, bianglala itu masih berputar. Menghipnotis perlahan-lahan. Pandangannya terpusat pada poros benda putih itu. Fokus… nanar… fokus… nanar… fokus... nanar.

Ia berkata kepada saya, "Seandainya lo bisa gw sentuh... Gw sama sekali gak keberatan jika gw dibawa ke psikiater dan dia bilang, "Anda POSITIF menderita skizofrenia." Gw sama sekali gak peduli. Gw hanya butuh seseorang untuk mengerti gw just the way you do. Yang mencintai gw apa adanya. Yang menghargai dan mendukung bakat gw. Yang gak menuntut gw untuk jadi orang lain yang dia mau. Yang gak menilai dan menghukum gw seenak jidatnya...

Yang bilang maaf jika dia salah..."

Dia menangis. Saya menggenggam tangan kanannya.

"Gw pikir..." lanjutnya, "Gw gak bisa menemukan kebahagiaan dari orang lain, maka gw mencarinya di dalam diri gw sendiri..."

"Kebahagiaan itu..." saya menghapus air mata yang mengalir di kedua pipinya. "Dikasih dari Tuhan. Jadi jangan minta ke orang lain, apalagi ke diri sendiri. Minta ke Tuhan."

Kedua matanya yang masih tertuju ke bianglala itu terbelalak lebar2. Bianglala itu telah berhenti berputar. Tapi bukan itu alasan kenapa dia kaget. Dia ingat sesuatu. Yang tanpa sadar ia lupakan. Yang tanpa sadar ia cari. Lalu kini ia temukan.

Aku lenyap bersama kegelapan yang diterangi cahaya subuh. Aku lenyap bersama duka dan keputusasaannya. Aku lenyap bersama air mata dan dirinya yang dulu. Aku hanyalah sebuah nama yang mungkin akan tetap dikenang sebagai salah satu tokoh di dalam novelnya.

Tugasku telah selesai. Sebuah awal telah bertemu dengan sebuah akhir.



* In the ethical thought of such existentialist writers as Sartre and Heidegger, abandonment is the awareness that there are no external sources of moral authority. No deity, for example, provides us with guidance or direction; we achieve an authentic life by depending only on ourselves.


09:36 23/3/2008 - 0 comments - [ post comment ]

2:53 AM. MY. KL. asrama. blok C. kamar nomor 7. kompartemen d.

apakah hanya psikopat yang melakukan itu: tertawa ketika seharusnya ia menangis?

tapi kadang2 aku melakukan itu dan aku bukan psikopat. aku hanya seorang mahasiswa malas yang suka menulis. setiap hari aku menunggu seseorang untuk membaca tulisan2ku. tapi tak ada. nihil pembaca. karena tulisan2ku absurd. sulit dipahami. dan membosankan. terlalu banyak run-once sentences. lagipula aku menceritakan tentang seseorang dan kesehariannya dan pemikirannya dan apapun tentang dia yang tak pernah kusebutkan namanya... semua itu bukan artikel dalam media cetak publik. tanpa pesan moral yang tersurat atau tersirat.

aku hanyalah penulis yang... entah idealis, entah egois. karena aku tak peduli pendapat para pembaca. aku menulis apa yang ingin kutulis. walaupun topiknya basi. walaupun isinya picisan. walaupun secara keseluruhan tulisan2ku hanyalah tumpukan sampah. lalu kenapa aku menulis? kenapa aku menulis? KENAPA AKU MENULIS?

aku tidak tahu.

menurutmu... kamu kira2 saja. apa yang akan seorang psikopat tulis? mungkin pesan teror. atau surat tentang isi hatinya. atau namanya. atau nama seseorang yang ia cintai. atau nama seseorang yang ia benci. atau nama seseorang yang lain di dalam dirinya.

aku tidak tahu. seharusnya aku bilang kepada dolly, "maaf dolly, ini sudah tanggal 22 januari 2008. dan saya mengantuk." tapi aku tidak tahu siapa itu dolly, kecuali dia nama domba betina yang dikloning yang hidup dari tanggal 5 Juli 1996 dan mati pada hari valentine di tahun 2003 lalu patung lilinnya dipamerkan di the royal museum of scottland. apakah aku harus mengatakan sesuatu pada edgar tentang enyo tapi aku benci nama itu karena dia mengingatkanku pada seorang cowok bernama nuki.

ocha bilang ia tidak jatuh cinta pada nuki. tapi aku tahu ocha menyukainya. kupikir mereka akan menjadi pasangan yang serasi. aku suka melihat ocha memainkan gitar hitam pemberian nuki dan memainkan lagu itu yang ditulis oleh nuki di selembar kertas yang kini sudah lecek dan mungkin juga sudah hilang.

lalu sue berkata, "ovi. tidurlah."

jarum panjang dan jarum pendek di jam gadget yang muncul di sudut kanan atas layar laptopku membentuk bidang yang tampak seperti sepotong pizza dan aku lapar. tapi pizza itu berwarna putih dan topingnya adalah 2 angka dan 3 garis2 sangat pendek berwarna hitam di antara 2 angka itu.

"ovi." kata sue lagi. "tidur. jangan selalu menyalahkan orangtuamu. seharusnya kamu bersyukur kamu bisa kuliah di universitas ini sekarang."



17 menit kemudian dia duduk di depan laptop yang menyala dan menyetel mp3 playernya seperti biasa. Ia membuka notepad dan mulai mengetik. Sebagai kalimat pembuka paragraf pertamanya, ia menulis, "Kenapa kita melakukan kesia2an?"



"Sebenarnya kita tidak melakukan kesia2an. Kita hanya menghibur diri kita sendiri. Mungkin karena dunia ini terlalu menyedihkan. Apalagi jika kau tinggal di Jabodetabek. Dari dalam mobilmu, kau bisa melihat anak2 mengamen, mengemis... dan ibuku bilang banyak di antara mereka sudah bukan perawan lagi. Mereka dijual sejak bayi.

Ketika aku SMP, setiap kali aku melihat mereka, aku pasti menangis. Aku ingin melakukan sesuatu untuk membuat mereka bahagia. Tapi ternyata... rumah singgah yang kupikir merupakan sebuah solusi yang cemerlang... bukanlah sesuatu yang membuat mereka bahagia. Mereka tak suka tinggal di sana. Karena mereka biasa hidup bebas tanpa peraturan. Pendidikan gratis bagi mereka bukan sesuatu yang menarik. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa orang2 terdidik pada akhirnya akan bergabung di jalanan bersama mereka. Karena sekarang, kita butuh uang untuk menghasilkan uang. Dan sepuluh ribu rupiah yang terkumpul setiap hari bukanlah uang.

Mereka hanyalah sekumpul benda untuk ditukar dengan sebungkus nasi campur sambal dan kerupuk. Sekumpul benda untuk menyekolahkan adik2 mereka agar bisa berhitung dan membaca. Sekumpul benda untuk beli obat batuk untuk Emak (padahal Emak sakit TBC). Sekumpul benda untuk bayar rumah kontrakan. Sekumpul benda untuk disetor kepada bos yang menyuruh kami mengamen atau mengemis di sini, di sini, di sini (menunjuk beberapa nama tempat). Sekumpul benda yang disembunyikan di dalam cup beha Emak agar tidak dirampas preman2.

Ketika aku SMA, aku mencoba untuk meyakini bahwa Tuhan itu Maha Adil. Kenapa Tuhan membiarkan orang2 miskin seperti mereka yang terperangkap di dalam lingkaran setan? Kusebut lingkaran setan karena... perhatikan siklus di bawah ini:

miskin > tak punya uang > tak berpendidikan > tanpa dasar agama > bodoh > ditipu > kerja pada calo > mengemis/mengamen/melacur/mencuri > setor sekian persen penghasilan untuk calo > bayar ini-itu > sakit (karena hidup yang jorok dan KURANG gizi) > (tetap) miskin > dst...

Tapi ada juga kisah nyata tentang orang miskin yang sukses lalu jadi orang kaya dan membantu orang2 miskin yang lain untuk memperbaiki kualitas hidup.

Bukankah sudah janji Tuhan bahwa Tuhan tak akan mengubah nasib seseorang jika orang itu tak mau mengubahnya? Dan bukankah sudah sangat jelas di dalam kitab suci dituliskan bahwa manusia harus saling tolong-menolong dalam kebaikan?

Manusia ditakdirkan untuk menjadi pemimpin di muka Bumi. Karena nasib Bumi ini dan isinya ada di kedua tangan kita. Setiap hal diciptakan karena punya fungsi masing2. Bahkan orang2 miskin. Bahkan serangga2 yang aku benci karena bentuk mereka yang menjijikkan. Bahkan sahabatku yang psikopat itu.

Ngomong2 tentang fungsi seorang psikopat... secara sederhana, psikopat ada agar psikiater, polisi, detektif, pengacara, hakim, penulis, sutradara, pemain film, musisi, pengusaha bioskop, penjual tiket, janitor yang kerja di dalam bioskop dll mendapat penghasilan.

Dan bagi saya pribadi, membaca buku atau menonton film tentang psikopat memang sangat seru dan menyenangkan."

Demikianlah ia menulis dan menyimpan tulisannya itu pada pukul empat kurang sepuluh menit dini hari. Lalu ia mematikan laptop dan mp3 playernya. Lalu ia merebahkan dirinya di atas kasur, membaca doa sebelum tidur dan memejamkan mata.
09:30 23/3/2008 - 0 comments - [ post comment ]

Writing test, semester II, section 3.

Topic: MODERNIZATION IS HARMFUL TO THE SOCIETY. Do you agree?

Tentu saja saya tidak setuju. Modernisasi hanya merupakan satu fase dari revolusi pikiran manusia. Yang berbahaya itu bukan modernisasi, tapi masyarakat itu sendiri. Lha wong kita yang menciptakan modernisasi, kita yang menggunakan dan bahkan MEMINTA modernisasi di berbagai aspek kehidupan, maka tak ada alasan bahwa modernisasi berbahaya bagi kita, sebagai anggota dari masyarakat. In a nutshell, modernization exists because of the society existence itself. Doesn't it?

Premonition of passing the writing test: 35%.



Duduk di kursi yang selalu berbeda, yang ia cari selalu sama: usb port dan headset yang berfungsi. Ia berhenti menulis novel terakhirnya, tapi tak juga ia delete. Ia menunggu sampai ide2nya terkumpul untuk melanjutkan tulisan itu. Sebagai seorang penulis amatir yang baru menghasilkan beberapa karya, ia tahu ia harus lebih sering membaca buku dan menonton film (atau mereka hanya alasan untuknya menghabiskan waktu lebih banyak lagi untuk menyendiri di kompartemen 12 petak itu?), dan ia butuh lebih banyak referensi sekarang...



Sebelumnya ia sempat mengetik sebuah blog posting tentang orangtua (terinspirasi dari blog posting sepupunya), sesuatu yang baginya sangat menyakitkan bahkan untuk menyebutkan kata berinisal OT itu. Tapi seperti biasa, sebagai seorang liberalis ia mampu menyampaikan opini secara diplomatis, tanpa menghakimi siapapun. Ia tahu bahwa orangtua adalah pasangan nomor satu yang harus seorang anak hormati dan cintai. Karena jasa mereka tak terbalas dengan apapun. Apapun. APAPUN. Tapi... orangtua hanyalah manusia biasa yang pernah melakukan kesalahan. Setiap kesalahan pasti ada hukumannya. Itu janji Tuhan.

Sejak menjadi seorang liberalis, akal sehatnya mampu mengobati sakit hatinya. Dan kini ia hidup sebebas udara. Tanpa rasa takut. Mungkin kadang ia bimbang, tapi setidaknya pilihan terakhir yang ia putuskan tak akan membuatnya menyesal.

Mereka sebut kehidupan adalah sebuah papan catur, dan setiap individu adalah satu2nya bidak catur untuk skakmat bidak catur lain. Argumen yang cukup filosofis. Tapi baginya, kehidupan hanyalah satu materi yang bisa ia cincang menjadi fragmen2 yang bisa ia sebarkan ke udara atau ia hanyutkan ke aliran air... Ia bisa muncul sebagai manusia, sebagai seorang anak yang membenci isi rumahnya, sebagai seorang pelajar cupu, seorang mahasiswa penyendiri, seorang penulis amatir, blogger, chatter yang aneh, seorang gadis buruk rupa, seorang cowok cool, seorang single, seorang gay, bahkan seorang monster.

Di dalam kehidupan ini ia bisa menjadi apa saja. Apa saja. APA SAJA. Ia bukan satu2nya bidak catur untuk skakmat bidak catur lain. Karena ia tak punya kawan. Ia tak punya lawan. Tapi ia tak sendirian.

Karena... ia hanya salah satu molekul pembentuk jaringan kehidupan. Wis iku thok.



Seorang teman datang kepadaku dan berkata, "I feel like avoided, rejected and left alone." Aku tak tahu harus berkata apa kepadanya, karena jika aku berada di posisi temanku itu, aku tahu aku memiliki opsi yang lain untuk tidak merasa kecewa, sedih, marah, atau bahkan bersalah lalu menyesal. Selalu ada pilihan yang lain. Selalu ada kesempatan yang lain. Dan dunia bagiku bukan hanya apa yang aku lihat, aku dengar, aku cium, aku rasa... tapi apa yang aku yakini.



Mungkin aku terlalu kekanak2an. Aku tak bisa, tak mau membedakan realita dan surealisme. Aku tak ubahnya seorang Peter Pan yang terperangkap di dalam Neverland. Atau aku hanya Wendy, sebagai tokoh utama kedua sekaligus pencerita... Ah, terserah.

Menurutnya (notabene: nya menunjukkan kepemilikan dari seseorang yang kuceritakan dari paragraf kelima sampai paragraf kesepuluh) jika dia berada di posisi temanku itu, ia akan menghabiskan waktu untuk menulis dan menulis dan menulis dan membaca buku dan menonton film dan mudik ke JKT untuk belanja lebih banyak buku dan film dan kembali ke KL untuk menulis dan menulis dan menulis dst...

Entah dia itu lugu atau bodoh atau cuek atau tak berperasaan atau hanya berpura2 tegar, ia bilang, "Matikan pikiran dan perasaanmu... lalu kau berada di ruang hampa udara."

Dan ketika kami sarapan pukul 5 sore itu di kantin, dia berkata, "Imagination means everything. Everything means imagination."

Sudah kupikirkan berulang kali... tapi ah. Tetap saja aku tak mengerti.
09:25 23/3/2008 - 0 comments - [ post comment ]
Meskipun ia jarang berkumpul dengan teman2nya, mereka tahu betul kebiasaannya. Dia malas belajar tapi rajin menonton film (alasan kedua kenapa laptopnya runs-low, selain ia melakukan pelestarian dan pengembangbiakan virus, worm dan spam di dalamnya). Ia mengerjakan tugas2 dan ujian2nya asal2an, tapi sangat serius ketika menonton film. Alisnya selalu mengerut, matanya melotot, lehernya terjulur ke depan dan badannya agak membungkuk, seakan2 ia siap mengejar dan menerjang layar tv di hadapannya. Ia siap menangkapnya. Lalu menyimpannya baik2 bahkan mungkin akan ia bawa ke dalam kubur. Teman2nya asik bergosip ketika ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ada sebuah kabel transparan yang menyambungkan benda berlayar tabung sinar katoda itu dengan jaringan otaknya. Dan sekotak kaca 17 inci pun berubah menjadi ruang penuh warna, gerak dan suara yang sinyalnya dikirim oleh radio dari satelit di orbit geosyncrhonous, diterima oleh antena tak kasat matanya, menembus lensa penglihatannya dan menggetarkan gendang telinganya.

Ada banyak film yang telah ia tonton. Ia KETAGIHAN menonton film2 action-thriller, terutama yang mengangkat tema tentang mafia, gangster, triad, yakuza, pembunuh bayaran, bounty hunter dan organisasi2 bawah tanah semacam itu. Ia termasuk fans antihero, yang tak mendukung FBI atau CIA atau polisi atau pemerintah untuk menghabisi para kriminal kompleks berbasis skema taktis itu. Dan ia hanya tertawa ketika ia menemukan tak ada sutradara Indonesia yang mengangkat tema semacam ini padahal negara itu adalah sarang penyamun. Markas besar dan pusat jaringan2 kriminalitas kompleks superjenius yang isinya psikopat semua.



Ambil saja UAN SMA sebagai contoh kecilnya. Sudah rahasia umum bahwa "mereka melarangmu menyontek tapi mereka menyuruhmu untuk bekerjasama". Atau Organisasi Produksi, Distribusi dan Penjualan Barang Bajakan dan Organisasi Gelandangan, Pengemis dan Bencong atau Undiscovered, Unlimited Hack/Crackers' Project in Progress sebagai contoh yang lebih major. Semua itu ada di Indonesia.



Seharusnya kita kembali ke topik utama blog posting kali ini, tapi saya lebih tertarik untuk bicara tentang jaringan2 kriminalitas kompleks superjenius yang kita singkat sebagai JJKKS. Hal ini membuktikan bahwa betapa cerdasnya otak2 manusia yang tinggal di arkipelago atau nusantara bernama INDONESIA ini. Saya sangsi tentang eksistensi JJKK yang sejenius dan sekuat ini di negara2 Asia khususnya Asia Tenggara lainnya. Seandainya ada, lupakan tentang itu. Jika kita bicara musuh, halooo... tetangga kita sedang melempari kita dengan panah api nih hoy!



Objection! PROVOCATING ACTION. Keberatan diterima. Ganti topik?



Bukan begitu... maksud saya, kita mampu mengalahkan "musuh kita yang satu itu". Jelas bukan fisik lawan fisik. Tapi sesuatu yang kita pelajari sejak zaman penjajahan dulu. Sesuatu yang klasik, tapi asik. Perang GERILYA. Underground movements.



Every face has its own dirty secret. Biarkan mereka pikir kita lemah dan sekarat. Biarkan mereka pikir diri mereka adalah pencuri yang terhebat. Tuhan adalah seadil2nya hakim.

08:51 23/3/2008 - 0 comments - [ post comment ]
Pada awalnya, saya pikir setiap nasib personal adalah fragmen2 yang tersebar di luar pintu kamar ini. Tapi setelah mengetahui banyak hal dan sering kali terjebak dalam pemikiran lebih jauh tentang arti eksistensi, saya yakin bahwa kehidupan adalah jaringan yang saling tersambung dan tak punya batas. Dia adalah relativitas sempurna, tanpa measurement. Sebagai contoh sederhana, saya pikir, mungkin pada saat yang sama ada beberapa orang memikirkan, merasakan atau mengerjakan hal serupa. Sehingga, setiap rasa sepi dan rindu akan sebuah persahabatan yang luas, kaya, penuh, sibuk dan luar biasa itu hilang. Karena seseorang tidak pernah sendirian. Terlepas dari konteks identitas leksikal, sendirian bukan hanya berarti kuantitas tunggal, seperti yang pernah saya tulis di blog posting sebelumnya. Tapi hal ini nyata. Bukan sebuah analogi yang ambigu, tapi bukan pula tenses yang harus dipastikan apakah sudah berlalu, masih terjadi atau berstatus "akan" di masa depan.

Tapi apa yang telah Tuhan ciptakan berada dalam satu posisi yang sama secara general, yaitu sebagai pelengkap, bukan sekadar subtitusi. Karena itulah seharusnya Anda tak perlu merasa putus asa ketika merasa terperangkap dalam sebuah kehidupan monoton yang antisosial secara tidak sengaja. Silakan lihat dan pastikan apa yang kita lakukan sekarang dan di sini. Tentu saja bukan sekedar menulis, tapi sekaligus berinteraksi. Menjadi salah satu informasi yang mengalir di dalam aliran darah dari jantung ke otak ke seluruh tubuh. Atau salah satu molekul energi listrik yang melesat cepat lewat kabel2 tak kasat mata, berfusi atom dengan semesta. Seharusnya dan bagaimanapun, kita hidup dan mati karena kita punya fungsi.



Senang berkenalan dengan Anda...



IndoBanner Exchanges

Copyright 2008, Penulis-Indonesia Inc. All Rights Reserved
FAQ | Terms of Service | Contact Us | Open Banner


Our Partner
Penulis-Indonesia.com - Komunitas Penulis Indonesia
WriterFun.com - Fun - Writers, Writing, Poetry, Novel, Creative Writing, Fiction Writing, Have Fun !!
www.InfoPromosi.com - Komunitas Promosi Online Interaktif & Info Bisnis