“Jika orang yang kamu sayangi, dan selama ini kamu percaya bahwa dia juga menyayangimu, ternyata hanya berorientasi sex padamu, bagaimana perasaanmu?”
Aku hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Pikiranku buntu, tak mampu menjawab pertanyaan itu. Bukan karena aku tak tahu jawabannya, tetapi karena aku masih tak mengerti apa yang dia maksud dengan pertanyaan itu.
“Siapa, Bet?”
“Apakah kamu akan meninggalkannya? Atau kamu akan tetap bersamanya untuk terus berusaha menumbuhkan rasa sayang itu padanya?”
“Aku gak ngerti…”
“Di sisi lain, kamu mulai menyadari bahwa setiap pria yang mendekatimu, setiap pria yang menurutmu menarik, belakangan kamu tahu ternyata sudah beristri.”
“Kamu tuh ngomongin siapa?”
“Aku. Aku ngomongin aku.”
“Siapa pria yang hanya berorientasi sex itu?”
“Hghhh…”
“Dan siapa pria yang sudah beristri itu??”
“Aku capek, Win…”
“Ck…”
“Aku gak bisa munafik, aku membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari seorang pria yang bisa membuatku special, dan memang orang yang special buatku.”
“Bet…”
“Andi, Win…”
“Andi kenapa??”
“Setiap kali kami ketemu, dia hanya menginginkan sex dariku…”
“Hah??!”
“Dan memang kami sudah sering melakukan itu…”
“… …”
“Tapi di luar itu, dia gak pernah menghubungiku untuk sekedar berbasa-basi. Dia gak pernah nelpon untuk sekedar mengajakku hang out atau dinner atu apa lah. Selalu mengajakku bertemu yang ujung-ujungnya…pasti berakhir dengan sex.”
“Andi…??”
“Tapi dia baik, Win…”
“Baik gimana?”
“Mungkin memang dia selalu mengharapkan sex dariku, tapi dia cowok yang baik.”
“Iya… baik gimana maksudmu?”
“Dia sopan, kami juga sering saling curhat dan dia selalu mau dengan sabar mendengarkan cerita-ceritaku atau keluhan-keluhanku ketika aku sedang ada masalah…”
TTM – Teman Tapi Mesra. Hal ini mungkin sudah lumrah bagi sebagian orang, tapi aku tahu, tidak bagi Bety. Dia bukan tipikal cewek yang ‘terlalu modern’, bisa menerima hal-hal seperti itu.
“Kamu jatuh cinta padanya?”
“Aku cewek yang gampang banget jatuh cinta…”
“Maksudnya?”
“Yah…aku gak yakin apakah aku sedang jatuh cinta pada Andi, atau hanya sekedar sedang menikmati kedekatan kami. Tapi yang jelas, aku sering kangen kalau kami lama gak ketemu.”
“Hummm…”
“Win…”
“Ya..?”
“Apakah aku cewek murahan..?”
“Apaan sih..?!”
“Atau cewek gampangan…??”
“Ck.. Bety…”
“Apa yang akan bisa membuatmu untuk tidak berpikiran seperti itu setelah mendengar ceritaku tadi..?”
“Yah… karena.. Karena menurutku, kamu melakukannya dengan rasa sayang. Kamu punya rasa sayang itu untuk Andi. Dan aku yakin… kamu tidak akan melakukannya dengan setiap pria kan??!”
“Apakah aku harus having sex dengan setiap pria, barulah predikat itu muncul..?”
“Bet…kalau memang kamu jadi membenci dirimu sendiri seperti ini, setelah melakukannya, kenapa kamu teruskan? Kenapa harus kamu lakukan lagi?!”
“Karena kamu benar, aku mulai menyayangi Andi. Dan jujur saja… aku menikmati setiap momentku bercinta dengan dia…”
“Well…”
“Apakah aku salah, Win..?”
“Well…”
“Yahh.. aku tahu itu pertanyaan yang bodoh. Tentu saja aku sedang berbuat kesalahan…”
“You know what I think?”
“What..?”
“Menurutku salah dan benar itu relatif bagi setiap orang. Apa yang salah menurutmu belum tentu tidak benar buatku…”
“Tapi…”
Kami terdiam sebentar. Lalu aku mencoba melanjutkan keta-kataku yang belum selesai tadi.
“Yah…tapi memang ada nilai-nilai yang sudah ditanamkan pada diri kita kan, Bet? Supaya kita juga punya pegangan yang kuat, untuk bisa menilai mana yang salah dan benar. Dan kita juga punya hati…”
“Maksudmu…? Karena aku melakukannya dengan hati, dengan rasa sayang, lalu itu menjadi benar..?”
“Tidak. Bukan begitu maksudku…”
“Lalu…?”
“Kita punya hati. Hati yang akan menuntun kita ke manapun…dan melakukan apapun. Bahkan pikiran kita pun terkadang harus dikendalikan dengan hati kita, Bet…”
“Ketika hatiku mengatakan itu benar, maka benar? Meskipun orang lain menganggap itu salah..?”
“Ya. Tapi satu hal… kamu tidak akan bisa membohongi hati nuranimu, Bet.”
“Hummhhh…”
“Ketika kamu merasa menyesal melakukannya, ketika kamu merasa tidak nyaman dengan itu, ketika kamu merasa bodoh sudah melakukannya, ya berarti…untuk apa kamu teruskan? Tidak perlu mencari alasan lain yang membuat kamu bisa tetap stay di situ.”
“Hghhhh..jadi apa yang harus ku lakukan, Win?”
“Turuti kata hatimu, Bet. Kata hatimu yang paling dalam. Kata hatimu yang paling terdengar.”
“Menurutmu…apa yang sedang diteriakkan kata hatiku sekarang..?”
Aku tersenyum.
“Tidak seorang pun yang bisa mengetahui apa kata hati orang lain, Bet. Tidak juga ibu kandungmu. Mungkin aku bisa menebak, tapi hanya kamu yang benar-benar tahu, apa yang menurutmu itu baik. Baik untuk semua. Baik menurut kata hatimu. Baik…yang tidak akan menyiksa hati kamu, Bet…”
Kami terdiam lagi. Kali ini agak lama. Sampai akhirnya aku mendengar sebuah suara helaan nafas Bety. Sebuah helaan nafas yang terdengar amat berat.
“Yahh.. aku mengerti maksudmu. I think I know what I’m gonna do now…”
“That’s good. Sebagai sahabatmu, aku hanya bisa mendukungmu. Mengambil keputusan dan melakukan apapun yang bisa membuatmu bahagia…bisa membuatmu tenang.”
“Tenang… Hummm… Ya, aku memang membutuhkan ketenangan. Itu yang sebenarnya aku butuhkan.”
“Semua orang membutuhkan ketenangan dalam hidupnya, Bet…”
“Supaya mereka bisa lebih mendengarkan kata hati mereka..?”
“Kita. Supaya kita lebih bisa mendengarkan kata hati kita.”
Senyum yang sedari tadi tak hinggap di wajah Bety, akhirnya kulihat juga di sana. Dan tiba-tiba ia membaringkan kepalanya di bahuku, yang duduk di sebelahnya.
“Terima kasih ya, Win. Untuk tidak menyalahkanku atau membenarkanku. Terima kasih untuk menemaniku untuk mengambil keputusan sendiri. Terima kasih telah menjadi sahabatku yang baik..”
“Hush..! Eh..! Iihhh…jangan gini ah..! Dilihat orang ntar disangka kita lesbi lagi.. Bet..!” kugerak-gerakkan bahuku seperti ada seekor lalat yang sedang bertengger di sana. Aku sangat risih dengan posisi kami saat ini. Bety justru semakin menggodaku. Ia menambah siksaan ini dengan merangkulkan kedua tangannya ke pinggangku, memelukku.
“Biarin..”
“Bety..! Ck.. iiihhh..! Beettyyyy…!! Aaaghhh…” kali ini kudorong sekuat tenaga tubuhnya yang entah kenapa justru semakin lengket di tubuhku.
“Biaarriiiinn..!”
|
