
Pernahkah Anda ngerasa malu saat ingin menuliskan bait kata dan rangkaian paragraf? Ketika ingin berkisah apa yang dialami, apa yang sedang dirasa di hati, apa yang sedang berkecamuk, bergelut, bergumul dan bergemuruh di jiwa, tapi terhalang oleh rasa takut diketahui kelemahannya. Terkendala oleh rasa malu, atau apalah namanya. Takut orang tahu betapa kita bodoh, betapa kita lemah, dan penuh kerapuhan. Takut penilaian orang terhadap kita menjadi berbeda. Menulis tentang diri yang penuh dengan dialog dialog hati kecil dengan nafsu yang kadang tak terkendali. Menulis tentang raik riak gelombang neuron di otak yang berpacu melawan ketuaan. Mencoba bersenang-senang dengan yang halal, mengais-ngasi kesenangan di tengah kesibukan. Memungut suka di lautan duka. Menjumput hati di tengah sepi.
Lalu apakah kemudia saat ketakutan itu menggurita melilit diri, kemudian anda hentikan jemari menari? Anda berhenti dan kemudian menyimpannya lagi. DI lubuk hati yang selama ini selalu terkunci dan akan jebol ambrol saat tiba saatnya. Ketika stress membebani jiwa dan merangsek menguasai penatnya hati. Tak ada saluran irigasi hati yang mampu mengalirkan keluh kesah, penat kehidupan yang selalu saja ada batu ujinya. Dengan menuliskannya kita menjadi dewasa, menyikapi diri kita yang luar biasa istimewa. Hati yang sering tertawa suka, hati yang kadang harus menepi sakit tergores luka. Hati yang kadang kalut, bingung, ngamuk dan kecewa. Menulis adalah cara tepat untuk membuka hati kita. Biarkan orang tahu kita adalah manusia. Bukan tembok beton yang sama sekali tidak dikaruniai rasa. Tebal dan sunggu bebal!
|
