Komunitas Penulis Indonesia
Search:   
Home    Search    Groups    Chat     Events    Games     Direktori     Invite    Help Signup    Login

Bercumbu Dengan Tinju
13:32 on 12/2/2008


Di suatu malam, saat itu ayahku sedang opname di rumah sakit. Beliau terkena serangan jantung, sehingga harus dirawat di rumah sakit selama beberapa pekan. Selain ayah, hanya aku laki-laki di rumah. Sehingga aku lah anak yang harus sering menunggui beliau di rumah sakit. Hampir tiap hari aku berjaga di rumah sakit sendirian. Ibu dan adikku hanya datang siang hari mengantar makanan. Kalau sudah begini kondisinya biasanya segalanya menjadi sangat sepi. Sendirian di ruang tunggu, teman pun tak ada, meski hanya sekedar bertanya berita.

Malam itu, aku harus pulang ke rumah. Maklum, sudah dua hari aku tidur di rumah sakit. Beruntung malam ini ada yang menggantikan posisiku. Bakda isya kurang lebih pukul 9 malam, aku di rumah sendirian. Saat ingin bergegas mandi, terdengar suara perempuan merintih. Tapi merintihnya bukan merintih sakit. Ku coba melihat melalui jendela ke belakang rumah. Masya Allah, dua orang anak manusia sedang berpacaran hebat di depan kandang ayam. Naluriku memberontak, “Ini tidak bisa dibiarkan.” Mereka tega bermesum ria di belakang rumahku. Sempat terpikir olehku mengambil senapan angin atau ketapel untuk memberi mereka pelajaran.

Tanpa pikir panjang, aku keluar rumah. Ku ajak ketua takmir masjid mendatangi dua orang tadi. Berdua kami berjalan memutar, karena terhalang pagar rumah. Sesaat aku berpikir apa yang harus aku lakukan. Deg degan, hati berdegup kencang. Aku sudah siapkan kepalan tangan, bila nantinya akan terjadinya perkelahian. Selangkah lagi aku akan sampai di tempat mereka pacaran. Dan akhirnya, “Hei! Kurang ajar! Apa yang kalian lakukan…” temanku berteriak, saat melihat mereka asyik bercumbu di depan kandang ayam itu. Tak ada lampu, gelap, hanya gelap saja. “ Ia pacarku, Mas…” Tidak puas dengan jawaban itu, temanku meloncat dan mendaratkan pukulan di muka orang itu “Sssaaappp…! Bukkkkk!” Dia terjatuh. Sekarang giliranku, tapi orang itu keburu bersujud di depanku. Ia meminta maaf. Si gadis pun tak tahu lagi harus menaruh muka dimana. Karena si gadis adalah tetanggaku sendiri. Ia benar-benar malu. Aku pun tak mengira kalau pelakunya adalah dia. Sebab malam itu memang sangat sepi, apalagi di kandang ayam itu. Sementara, lelaki itu benar-benar tidak punya nyali. Dua pukulan membuatnya jatuh tersungkur. Wajahnya lebam. Ia menangis memohon ampun. Tanganku dipegangnya, dan bahkan diciuminya. Heran, ia bisa berubah sedemikian cengengnya. Padahal sebelumnya aku berpikir, dia akan melawan. Dan mungkin akan terjadi perkelahian seru di antara kami.

Lelaki itu adalah anak rantau dari daerah seberang. Selama ini saya kenal ia adalah sosok yang alim. Ia sering adzan di masjid dan sering shalat jamaah juga. Tapi malam itu adalah malam yang naas baginya. Ia tertangkap basah berbuat mesum di hadapan singgasana-Nya. Ia mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Allah dan di hadapan makhluk-Nya. Sejak itu ia meninggalkan tempat kami. Sedangkan si perempuan harus menanggung malu hingga kini.
Pelajaran dari apa yang saya alami adalah bahwa nahi munkar membutuhkan keberanian. Pelaku kemaksiatan seringkali bermental kerdil dan bernyali kecil. Maka Insan beriman harus mampu nahi munkar. Bila memang secara teknis kita mampu, sebaiknya mental dipersiapkan untuk berani mencegah kemungkaran. Karena terkadang kita terlalu takut terhadap bayangan risiko yang belum tentu akan terjadi.


| Jangan Asal Copy Paste



Free Web Hosting with Website Builder

Comments (0)


IndoBanner Exchanges

Copyright 2008, Penulis-Indonesia Inc. All Rights Reserved
FAQ | Terms of Service | Contact Us | Open Banner


Our Partner
Penulis-Indonesia.com - Komunitas Penulis Indonesia
WriterFun.com - Fun - Writers, Writing, Poetry, Novel, Creative Writing, Fiction Writing, Have Fun !!
www.InfoPromosi.com - Komunitas Promosi Online Interaktif & Info Bisnis