Normal0falsefalsefalseMicrosoftInternetExplorer4/* Style Definitions */table.MsoNormalTable{mso-style-name:"Table Normal";mso-tstyle-rowband-size:0;mso-tstyle-colband-size:0;mso-style-noshow:yes;mso-style-parent:"";mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;mso-para-margin:0cm;mso-para-margin-bottom:.0001pt;mso-pagination:widow-orphan;font-size:10.0pt;font-family:"Times New Roman";mso-ansi-language:#0400;mso-fareast-language:#0400;mso-bidi-language:#0400;}
"Kriiing... kriiing..."
Bel tanda masuk kelas telah berbunyi. Seakan memanggil seluruh siswa yang sedang melakukan kegiatan mereka masing-masing untuk masuk ke kelas. Ada yang sedang bermain, nongkrong di warung dekat sekolah, pacaran, membaca, bersih-bersih dan sebagainya. Rama, seorang siswa yang dari tadi melamun, kaget dengan suara bel tersebut. Setelah bangkit dan membawa tasnya, Rama langsung masuk ke kelas yang berada di lantai dua gedung sekolah tersebut. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang semester berakhir. Namun bagi Rama, hari ini tidak ia anggap sebagai hari pertama masuk sekolah, melainkan hari pertama ia menjadi siswa kelas 9 di sekolah tersebut. Setelah masuk dan duduk di kursi yag telah dicarter sebelumnya, Rama kemudian mengeluarkan sebuah buku yang kelihatan seperti baru yang tak lain adalah buku pelajaran.
Beberapa saat kemudian, muncul sesosok pria setengah baya dari balik pintu yang sejak masuk tadi tidak ditutup. Entah berapa usianya. Pria itu membawa sebuah tas tangan yang terbuat dari kulit berwarna hitam mengkilat. Kemudian pria itu duduk di meja guru yang terlihat berantakan.
”Selamat pagi, anak-anak!”, sapa pria tersebut dengan suara yang tidak terlalu nyaring.
Sesaat kelas tersebut berubah menjadi sunyi. ”Selamat pagi, Pak!”, jawab semua murid yang ada di kelas tersebut.
”Bagaimana liburannya? Apakah kalian merasa puas?”.
Semua murid di kelas itu diam. Kemudian ada salah seorang murid mengacungkan tangannya,
”Menyenangkan sekali, Pak! Ketika liburan kemarin saya pergi bertamasya ke pantai, Pak! Saya puas sekali!”.
Mendengar perkataan anak itu, pria tersebut langsung memperlihatkan wajah gembiranya.
Selagi para murid yang lain sibuk bercakap-cakap dengan pria tersebut, Rama malah sibuk memperhatikan seorang gadis yang duduk disebelahnya. Andi, teman sebangkunya merasa heran dengan kelakuan Rama yang dari tadi terus memperhatikan gadis tersebut.
”Hei…! Kamu kenapa? Dari tadi aku lihat kamu memperhatikan Riyani terus, kamu suka sama dia?”, tanya Andi.
Rama yang terlihat kaget, dengan refleks menjawab,
” Ah, kamu mengagetkan aku saja.”.
Kemudian Rama menceritakan yang sebenarnya kepada Andi bahwa dia telah jatuh cinta kepada gadis yang bernama Riyani itu. Riyani adalah seorang gadis desa yang mempunyai wajah yang lumayan dan suara yang sangat merdu. Selain itu dia juga mahir dalam membuat sebuah puisi. Sudah beratus-ratus puisi yang dia buat selama bersekolah di sekolah tersebut. Sedangkan Rama, dia hanyalah seorang anak laki-laki pemalu yang tidak bisa apa-apa, tapi Rama mempunyai kelebihan dalam pendidikan, khususnya pelajaran Bahasa Inggris. Rama mulai menyukai sosok Riyani sejak naik ke kelas dua. Dia merasa bahwa dia sudah beranjak dewasa. Namun Rama yang sangat pemalu hanya bisa memendam perasaannya kepada Riyani sampai sekarang. Hingga suatu saat Rama diberitahu oleh teman Riyani bahwa Riyani juga suka kepada Rama. Rama pun terkejut bercampur bahagia oleh perkataan teman Riyani tersebut.
Setelah kejadian tersebut, Rama kemudian menceritakan hal tersebut kepada Irfan, teman sekampungnya. Ternyata Irfan sudah tahu hal itu, tapi ia disuruh agar tidak menceritakan hal itu kepada Rama. Irfan pun kemudian menyuruh Rama untuk mengungkapkan perasaannya kepada Riyani. Namun Rama tidak langsung mengatakan bahwa dia setuju. Akan tetapi dia masih ingin berfikir matang-matang dahulu.
”Setelah kupikir-pikir, Fan, aku memang sebaiknya mengatakan bahwa aku suka sama dia. Tapi aku tidak berani mengatakannya. Kamu harus membantu aku ya, Fan!”, kata Rama keesokan harinya.
”Yaah, dasar pemalu! Kamu harus berani mengatakannya. Kalau tidak, kamu tidak akan mendapatkannya sampai kapanpun.”, jawab Irfan.
”Iya, tapi kamu harus membantu aku, Fan.”.
”Ah, kamu. Tapi, baiklah, aku akan membantumu. Tapi kali ini saja ya?”, jawab Irfan.
”Makasih, Fan!”.
Kemudian mereka berdua berangkat ke sekolah bersama-sama. Setelah sampai, Rama langsung menghampiri Riyani yang sudah datang dari tadi. Dan mengatakan bahwa dia telah jatuh cinta kepada Riyani. Namun Riyani tidak langsung menjawabnya, akan tetapi raut muka Riyani yang sedikit muram menunjukan sepertinya dia tidak bisa menerima Rama begitu saja. Pada saat itu, Rama pun dapat membaca raut wajah Riyani yang agak muram tersebut. Sesaat suasana berubah menjadi hening. Mereka berdua saling diam. Kemudian Rama bertanya kepada Riyani mengapa dia menunjukan raut wajah seperti itu. Riyani pun menjelaskan bahwa sebenarnya dia juga menyukai sosok Rama, namun Riyani tidak bisa menerima kehadiran sosok Rama disampingnya. Dia juga menjelaskan bahwa orang tuanya tidak mengijinkan dia untuk pacaran sebelum dia berusia 17 tahun. Dia pun meminta maaf kepada Rama.
Sementara itu, Rama yang sangat mencintai sosok Riyani merasa kecewa atas apa yang telah diungkapkan oleh Riyani. Namun dia sadar bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menerima bahwa dia tidak bisa menjadi sosok yang spesial di mata Riyani. Dan dia sadar bahwa sebenarnya cinta itu tak harus saling memiliki satu sama lain. Rama pun akhirnya menerima semua alasan Riyani tersebut, dengan satu syarat. Apabila memang mereka berdua tidak bisa menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, namun mereka tetap bisa menjadi sepasang sahabat yang takkan pernah terpisahkan untuk selamanya.