Komunitas Penulis Indonesia
Search:   
Home    Search    Groups    Chat     Events    Games     Direktori     Invite    Help Signup    Login

Mawar Untukmu
23:02 on 9/2/2008


Mawar Untukmu Sudah lama aku tak pernah melihatmu lagi Sekian tahun sudah berlalu tanpa dirimu... Sekian tahun berusaha untuk melupakanmu... Semenjak aku membuat kesalahan terlalu banyak padamu Semenjak kita berdua memutuskan untuk berpisah Aku sudah berjanji untuk tidak bertemu dirimu lagi Dan kini ketika cinta kita dipertemukan kembali oleh takdir Aku tak bisa berbuat apa-apa Tak tahu juga harus bagaimana memperlakukan dirimu Menyakitimu... Menjauhimu... Memarahimu... Atau kembali padamu... Dan maukah kau menerima diriku... Aku juga tak mengerti maksud Dia melakukan ini pada kita berdua Yang kutahu Dia bermaksud baik pada kita berdua...------------- Hujan lebat turun tanpa ampun mengguyur daerah perumahanku. Sudah 2 jam air dari atas sana tak kunjung berhenti. Terlihat reda pun tidak. Di teras depan , permukaan air sudah tinggi meinggalkan jalan aspal, naik terus dan tinggal sedikit lagi maka rumahku akan kemasukan air. Pasrah menghadapi semuanya, kuambil kursi duduk dari dalam rumah dan membawanya keluar. Kutaruh di teras dan duduk, menikmati suasana hujan deras dengan angin kencangnya. Sedikit aneh memang, tapi ini sudah menjadi kebiasaanku sejak aku ditinggalkan kekasihku di lapangan parkir 3 tahun lalu, saat hujan lebat mengguyur. Meski hujan begitu keras sampai memekakan telinga namun aku merasa bahwa inilah saat-saat tepat merenungkan kehidupan yang sudah kujalanani selamanya. Kehidupan cintaku, sekolahku dulu, kenakalanku waktu masih kecil, kebaikanku dan perbuatan burukku selama ini. Tak tahu mengapa, kenanganku baru akan muncul di saat-saat hujan lebat begini. Kuingat teman-temanku yang juga sudah lama tak jumpa sejak lulus sekolah dapat kuingat bila hujan tiba. Kadang aku juga bertanya-tanya bagaimana keadaan mereka semua, apakah baik-baik saja, sudah menikahkah mereka semua, sudah makmurkah mereka semua, sudah hebatkah mereka semua. Kulihat ke arah jalan, seseorang nekat menerobos hujan lebat. Sekilas dia pun melihat padaku dan mengernyitkan dahinya, mungkin dia berpikir bahwa aku ini orang sinting. Bajunya juga sudah basah kuyup, dingin pasti rasanya. Setelah orang itu lewat, tak ada lagi yang melintas di depan rumahku dan kupikir sungguh hebat, hujan telah membuat orang-orang tak berkutik menghadapinya. Angin yang menerpa wajahku membuatku tak biasa membuka mata lebar-lebar, jadi kupejamkan saja. Dan dalam kegelapan teringat lagi, kenangan-kenangan lama bersama mereka waktu di sekolah dulu dan tentu saja bersama kekasihku. Dan sekali lagi hati ini serasa ditikan pisau. Hujan sudah mulai reda, tapi masih rintik-rintik. Terasku sudah kemasukan air, namun hanya sedikit saja sehingga kubiarkan saja sampai kering. Kutatap rintik-rintik hujan yang jatuh sampai aspal ataupun genangan air dibawahnya. Tiap tetes yang kulihat mengenangkan diriku dengan wanita yang dulu pernah ada di hatiku. Waktu itu, di lapangan parkir sebuah taman hiburan, tempat kami seharusnya melakukan kencan kami. Aku terlambat datang karena masih ada urusan kerja yang harus kuselesaikan terlebih dahulu. Hanya 30 menit aku telat menemuinya tapi dia langsung marah-marah padaku dan meninggalkan diriku di sana. Berjalan cepat dia beberapa langkah di depanku dan berbalik."Kita putus! Aku sudah muak dengan kelakuanmu!" teriaknya padaku"Apa??!" terkejut aku mendengarnya.Dia tidak mengindahkan perkataanku dan meninggalkanku begitu saja. Di saat itu, hujan lebat mulai turun. 5 menit kulalui hanya dengan berdiam diri, basah kuyub dan dingin. Orang-orang yang melihatku berpikir bahwa aku sudah sinting. Seseorang tanpa sengaja menabrak diriku sampai jatuh. Dengan keadaan telungkup dan bajuku yang sudah berubah warna menjadi coklat aku dapat melihat genangan air yang segaris dengan mataku. Rintik-rintik hujan yang menghantam genangan air membuatku mengenang kenangan lama. Kenangan pahit bersamanya dan kupikir lagi, aku hanya telat beberapa menit, tapi kenapa dia langsung memutuskan diriku. Mungkin bukan karena keterlambatanku yang ini, mungkin karena keterlambatanku yang sebelumnya. Keterlambatanku untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan untuknya. Kuputar otakku lagi untuk mengenang lebih dalam kenang-kenangan pahit yang pernah kulalui bersamanya. Waktu itu, ketika hujan lebat juga, aku ditelepon dan dia mengatakan bahwa ibunya sedang sakit berat dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit."Ibuku lagi sakit keras, ibu minta kamu untuk menemuinya." isaknya terdengar lemah dan kurasa bahwa dia sudah tahu bahwa penyakit ibunya sudah tak bisa disembuhkan lagi. Hanya menunggu waktu saja."Pasti. Pasti aku akan datang." jawabku cepat."Pastikan untuk tak terlambat, kau tahu maksudku kan.""Iya, aku pastikan. Besok aku akan menjenguknya" selaku langsung. Akupun merencanakan untuk menjenguk ibunya siang hari ketika jam makan siang. Kulalui pagi dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaanku. Bertumpuk-tumpuk file harus kucek ulang dan yang lainnya harus kutandatangani, itupun sebelum ditandatangani juga harus mengetahui pasti apa isi dari file itu.Siangpun datang dan waktu jam makan siang sudah dikeluarkan. Segera kuambil kunci mobil dan menuju ke tempat parkir. Kutancapkan gas ke arah sebuah restoran favoritku yang dapat dijangkau dalam waktu 10 menit saja. Di sana kupesan Omelet yang disiram saus tomat dengan segelas anggur putih untuk minumnya. Kusantap makan siangku dengan lahap hingga habis. Kupanggil pelayan dan meminta bon pembayaran, kubayar dengan kartu kredit dan ketika menunggu pembayaran selesai, HPku berdering, kuangkat dan ternyata dari bosku. Dia mengatakan untuk segera kembali ke kantor karena ada masalah mendadak yang harus di selesaikan di sana. Kuiyakan. Tanda tangan struk pembayarannya, simpan kembali kartu kredit di dompet dan memberi tip uang kepada pelayanan lalu kembali ke mobil untuk kembali bekerja. Satu hal yang kulupakan waktu itu, aku melupakan janjiku pada kekasihku untuk menjenguk ibunya. Malam harinya, ketika aku mengeluarkan dompetku untuk mengambil recehan guna membeli sekaleng coka cola di mesin minuman. Secara tak sengaja kulihat foto kekasihku dan teringat akan janji yang kubuat dengannya. Segera akupun melesat ke ruang kerjaku untuk mengambil kuci mobil. Menekan tanda turun di lift sebanyak-banyak agar cepat naik keatas. Untung saja di lift sedang kosong sehingga dalam waktu 1 menit aku sudah berada di lantai tempat aku memarkirkan mobil. Menujulah aku ke rumah sakit tempat ibunya dirawat. Keterlambatanku yang kedua, aku terlambat untuk mengatakan kata perpisahan dengan ibunya. Dia sudah meninggalkan dunia ini dan aku belum bertemu dengannya. Terlambat untuk menjenguknya dan sekarang sudah tak bisa dijenguk lagi. Di depan kamar, aku bertemu dengan kekasihku dan dia menangis hingga maskara yang ia gunakan luntur. Kupeluk dia erat-erat namun dia memukul-mukul diriku. Tetap kurangkul erat sampai dia kehabisan tenaga dan menangis di bahuku."Kau terlambat, bodoh."tangisnya padaku.Akupun tak bisa menjawab dan hanya bisa menatap keluar jendela. Hujan lebat sedang mengguyur rumah sakit itu. Kulihat lagi rintik hujan yang kini menyentuh kulit wajahku. Dingin rasanya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya aku bisa melakukan hal sebodoh ini. Di tempat parkir itu, aku hanya berbaring. Dan akhirnya aku menangis, namun tangisanku tak ada bedanya dengan air hujan yang mengalir turun dari wajahku. Bercampur jadi satu, antara dinginnya air hujan dengan hangatnya air mata yang keluar. Kupejamkan lagi mata ini, sebuah keterlambatan lain melintas di pikiranku. Sesudah pemakaman ibunya, dia mulai menjauhi diriku dan aku merasakan hal itu. Kutelepon dia setiap ada kesempatan namun tak pernah diangkat. Kudatangi rumahnya namun tak pernah dia berada di rumah dan walaupun dia ada, dia akan berpura-pura tak ada di rumah. Dan apabila aku dapat bertemu dengannya, maka dengan seribu satu alasan dia akan mencoba untuk mejauhiku. Dengan perbuatannya yang seperti itu aku merasa bersalah dan berusaha untuk membiarkannya sejenak. jadi selama beberapa aku tak berusaha menghubunginya. Kusibukkan hariku dengan pekerjaan-pekerjaan yang terus menumpuk tanpa ada jeda sekalipun. Kadang-kadang ingin sekali untuk menanyakan keadaannya, tapi selalu saja ketika ingin meneleponnya, pekerjaan lain sudah menunggu untuk diselesaikan sampai pada akhirnya aku lupa untuk meneleponnya. Sampai suatu pagi ketika aku baru saja selesai mandi, HPku berdering dan nama kekasihku keluar dalam layar. Segera kuangkat."Halo. Bagaimana kabarmu? Baik-baik aja kan?" tanyaku begitu dia menyapaku."Aku baik-baik aja kok. Kita bisa ketemuan nggak?" tanyanya tanpa basa-basi."Bisa-bisa. Kapan? Dimana?""Di tempat biasa."Dan yang kudengar setelah itu hanyalah suara nada bahwa hubungan telah diputus. Tempat biasa, restoran favoritku. Tempat pertama kali aku bertemu dengannya. Waktu itu aku sedang duduk di meja sendirian dan karena restoran itu cukup terkenal maka meja yang ada tak cukup untuk menampung semua penunjung dan saat itulah kekasihku dengan wajahnya yang cantik dan ramah menegurku dan memohon padaku untuk berbagi tempat duduk dengannya. Kupersilahkan dia untuk duduk di mejaku. kekasihku adalah orang yang cerewet, banyak sekali yang dia berbicara waktu itu, padahal belum saling kenal."Terima kasih ya sudah mau bagi tempat dudukmu." senyumnya padaku"Sama-sama." kujawab singkat dan kembali melanjutkan makanku"Oh ya kamu sudah baca berita di koran belum?""Ternyata membawa HP di kantong bisa menyebabakan kemandulan loh.""Terus juga ada berita kalau pelaku pemboman di Iraq sudah ditangkap. Harus dihukum mati tuh. Kamu setuju nggak hukuman mati diberlakukan di Indonesia?" ungkapnya lagi"Kamu kok nggak jawab sih, ayo jawab dong..." cemberut di padaku."Iya-iya, kamu sih bicaranya ngrocos terus, gimana jawabnya." tersenyum aku padanya.Dan makan siangku waktu itu menjadi makan siang terhebat yang pernah aku alami. Ditemani seorang wanita cantik yang selalu membuatku tertawa dan melupakan sejenak masalah pekerjaan ini yang telah hatiku luluh. Dan beberapa hari setelahnya aku menghubunginya untuk makan malam ataupun berbincang-bincang sekedar menanyakan keadaan. Dan 2 bulan berikutnya ketika aku menyatakan cintaku padanya. Itulah hari paling bahagia yang pernah kurasakan. Tak tahu ada sesuatu yang menghadang di depan sana. Jam 12 siang aku sudah berada di restoran itu. Kukatakan pada pelayan tentang pesananku di sana. Kusebutkan namaku dan dilihatnya dalam list bookingnya di komputer. Dengan sopan pelayanan itu menyuruhku untuk mengikutinya. Diantarnya aku ke meja yang dekat dengan jendela, tempat yang sama waktu aku menyatakan cintaku pad a kekasihku. Kutunggu disana dengan anggur putih di atas meja. Kutatap keluar jendela untuk melihat awan-awan disana. Awannya putih, menunjukkan hari ini adalah hari yang menyenangkan. Kutatap lagi awan-awan itu lagi dan terkenang masa indah bersama kekasihku. Mawar merah yang cantik kubeli dari toko bunga yang dekat dengan tempat ia bekerja. Kutuliskan sedikit rayuan gombal di kartu mawar itu. Kumasuki kantornya dan segera ke lantai 4. Di sana kulihat dia sedang sibuk. Merasa kasihan, kubelikan kopi hangat di mesin minuman dan baru masuk ke kantornya. Kuketok pintu dan dia hanya menyilakan aku masuk tanpa melihat siapa sebenarnya yang datang. Kudekati dia perlahan-lahan, kutaruh gelas kopi itu di atas mejanya dan ketika dia menaikan kepalanya segera aku serahkan bunga mawar merah tersebut."Ah.... mawar keseukaanku. Makasih ya. Kaget aku tiba-tiba kamu udah di depanku." diciumnya mawar itu dan diambilnya kartu gombal yang di atasnya."Ihh.... Gombal. Sudah nggak mempan buat wanita zaman sekarang." tawanya keras"Memang. tapi kalau gombal supaya kamu tertawa padaku masih bisa loh." balasku.Dia pun tertawa lagi dan pada akhirnya dia meninggalkan semua pekerjaan untuk dapat bersenang-senang denganku. Dan itu merupakan hari romantis yang masih kuingat sampai sekarang ini. Tersadar dari lamunanku, aku palingkan wajahku kearah pintu masi\uk restoran. kekasihku baru saja masuk dan segera berjalan menuju ke meja ini. Dia terlihat pucat, tubuhnya sudah turun beberapa kilo kurasa. Di sudah tak seperti kekasihku yang dulu."Hei, sudah lama kita tak bertemu." kataku mencairkan suasana."Udah, nggak usah basa-basi." jawabnya ketus."Begini, kini ibuku sudah tiada dan aku merasa sangat kecewa sekali melihatmu tidak menepati janji. Namun aku masih sangat mencintaimu, sayang." kalimat yang sudah ingin kudengar akhirnya dikatakan juga olehnya."Aku juga masih mencintimu, sayang dan...""Kalau begitu jangan pernah terlambat lagi, apalagi terlambat denganku." selanya tajam"Pasti. Tak akan pernah terlambat lagi." tegas kukatakan padanya.Dan seketika itu dia menangis di depanku, di restoran itu. Sebuah tangis bahagia mengalir turun dan jatuh di meja. Kuambil tissue di meje dan segera kuusapkan air mata itu. Hangat rasanya. Dan akhirnya hari itu dilewati dengan bahagia. Setelah hari bahagia di restoran itu, hatiku merasa lega karena ternyata dia tidak meninggalkan diriku. Kulalui hari-hari sesudahnya dengan pekerjaan-pekerjaanku yang semakin menumpuk banyak. Kuselesaikan pekerjaanku secepatnya. 2 jam setelahnya aku baru dapat menyelesaikan pekerjaannya. Dengan capai akupun pergi ke mesin minuman untuk melepas dahaga. Kubuka dometku dan kulihat wajah kekasihku denganku disana. Sanagat romantis. Kuambil beberapa koin lima ratusan dan kumasukan, lalu kutekan coka-cola.BLAAARRR....Petir menyambar keras sekali. Kurasakan akan ada hujan lebat malam ini. Sambil minum, partnerku memanggilku karena ada rapat yang harus segera diselesaikan. Kuhabiskan cepat-cepat dan menuju ke ruang rapat. Di sana, kuberikan segala solusi yang bisa kuberikan pada bossku dan ketika semua keputusan sudah diambil, bosspun mengizinkan anak buahnya untuk pulang. Di tempat parkir, petir menyambar lagi dan membuatku harus menutup telinga karena kerasnya. Masuk ke dalam mobil dan melihat ke arah jam. Jam 5.50. Sebuah petir menyambar lagi dan satu janji telah kulupakan."Nanti kita ketemuan jam 6.00 ya. Jangan lupa. Di tempat parkir taman hiburan yang baru buka. Ingat! Jangan sampai lupa ya!"Petir kembali menyambar dan tak dapat kusangkal lagi. Aku akan terlambat. Segera kunyalakan mesin mobil dan kutancapkan gas dalam-dalam menuju taman hiburan. 30 menit tepat aku telah terlambat. Dan 5 menit sudah dia meninggalkan diriku ini. Ditengah derasnya hujan lebat. Setelah semua kenangan itu, akupun bangkit dan melihat kesekililing. Dia telah pergi dan tak mungkin kembali lagi padaku. Dia sudah tak percaya lagi padaku. Dan hari-hari setelah itu kulalui dengan depresi. Kinerjaku di kantor menurun, namun untung saja tidak sampai dipecat. Aku menjadi suka mabuk-mabukan dan menjadi pemarah. Selain itu aku juga sudah mulai tidak mengurusi kesehatan badanku. Di saat-saat kehancuranku datanglah teman lamaku. Kuceritakan semuanya dan diapun memberiku dorongan semangat hingga akhirnya aku mulai dapat melupakan kekasihku itu. Setelah keadaanku pulih total aku baru sadar bahwa aku tak pernah bertemu dengannya semenjak di tempat parkir taman hiburan itu. Pernah sekali aku mengunjungi kantornya, dan kulihat di ruangannya masih ada mawar yang kuberikan waktu itu. Namun mawar itu sudah layu, Daunya yang merah sudah berjatuh dan tangkainya sudah membungkuk. Kutinggalkan saja kantornya tanpa pesan apapun untuknya dan kumantapkan diriku bahwa memang dia bukan untuk diriku yang sering terlambat ini. Kini hujan sudah berhenti. Air yang masuk ke dalam rumahku ternyata lebih banyak dari pada yang kuduga. Dengan malasnya kukembali kursi ke tempat semula. Kuambil kain pel, untuk mengeringkan lantai yang kebanjiran. Dan ketika waktunya mengepel nagian teras, kulihat matahari mulai menampakan dirinya lagi. Menyinari kompleks perumahan ini. Kukenang sejenak masa lampau dan kumantapkan diriku lagi. Walau kekasihku sudah tidak menemani diriku, namun bila hujan sudah berhenti maka matahari akan selalu menemani diriku tanpa adanya keterlambatan.------------- Hujan sudah tak ada lagi Matahari sudah mulai tampak Tak pernah terlambat muncul Selalu tepat waktu Bila dibandingkan denganku Aku sering terlambat Aku sering menyakiti kekasihku Aku terlalu bodoh untuknya Tapi aku ingin tetap punya seorang kekasih Jadi yang akan kucari dan kutemukan Adalah wanita yang dapat menerimaku apa adanya Tanpa ada kejadian yang menyedihkan ini lagi Karena aku sudah tak ingin merasakan hal-hal seperti itu lagiFIN created: Cire

| Jangan Asal Copy Paste




Comments (3)
Ferry - 21:05 on 24/2/2008  [ message ]
Cire, tulisanmu bagus....
tapi sayang formatnya kok kacau ya. Jadi agak bingung bacane.

Kalau posting, jangan pakai browser Opera, pakai aja Firefox atau IE...

Keep writing ya....
Anonymous - 21:15 on 12/2/2008  [ message ]
Terima kasih telah mengundang saya untuk melihat blog Cire. Good....Menulis...Menulis...Menulis...
TB - 12:12 on 11/2/2008  [ message ]
keren bgt bro tulisan loe.................
keep rock n rool,writing n religius


IndoBanner Exchanges

Copyright 2008, Penulis-Indonesia Inc. All Rights Reserved
FAQ | Terms of Service | Contact Us | Open Banner


Our Partner
Penulis-Indonesia.com - Komunitas Penulis Indonesia
WriterFun.com - Fun - Writers, Writing, Poetry, Novel, Creative Writing, Fiction Writing, Have Fun !!
www.InfoPromosi.com - Komunitas Promosi Online Interaktif & Info Bisnis