
ESOK PASTI LEBIH MENYENANGKAN-------------- Ini pertama kalinya, Aku merasakan jantung ini berdebar kencang Ini kedua kalinya, Aku merasakan sensasi aneh memasuki hatiku Ini ketiga kalinya, Aku berpapasan dengannya di gang sekolah Ini yang aku rasakan untuk kesekian kalinya, Aku jatuh cinta padanya...--------------30 Januari, 7:00 Kelas Hari ini terik matahari sedang panas-panasnya menyinari bumi. Walaupun sekarang aku sedang berada di dalam kelas, tapi teriknya matahari serasa dapat menembus tembok-tembok sekolah dan menggosongkan kulit tubuhku. Kukibas-kibaskan buku yang sedari tadi kupegang untuk sedikit mendinginkan diri. Meski sudah kukibas keras-keras tapi tetap saja keringat bercucuran membasahi seragam sekolahku. Burung-burung terbang berusaha melintasi langit yang bila di pikir-pikir lagi tak akan pernah bisa untuk dilintasi. Serasa di panggang di dalam oven akupun membuka jendela lebih besar lagi namun angin sedang tak bersahabat rupanya. Hanya desiran-desiran kecil saja dan tak mungkin untuk menyejukkan badan. Dan pada akhirnya cuaca panas yang tak bersahabat dan tak berkompromi telah membuat pikiranku melayang jauh pergi meninggalkan penjelasan guruku di depan sana."Besok kalau tak salah dia berulang-tahun." sebuah pertanyaan yang kutujukan pada diriku sendiri.Awan yang kutatap tak memberikan jawabannya, hanya diam dan melaju lambat menunggu waktunya untuk menurunkan hujan. Langit biru dibalik awan tersebut, walau sangat menenangkan tapi tetap saja tak memberikan satu jawabanpun. Kupalingkan wajahku kembali ke kelas untuk sekadar berjaga-jaga bahwa guru tidak sedang melihat ke arahku dan memergokku sedang tidak mendengarkan pelajarannya. Ternyata guruku masih sibuk menyelesaikan soal yang dibuatnya sendiri. Akupun tertawa kecil karena merasa aneh dia tidak bisa menyelesaikan soalnya sendiri. Dibantu oleh teman-temanku yang juga tak mengerti benar pelajaran itu membuat soalnya menjadi lebih rumit dari sebelum dan biasanya akan berakhir dengan sebuah tanda bel yang menandakan bahwa soal itu sebaiknya tidak perlu untuk dikerjakan. Sia-sia juga kurasakan bila aku ikut membantu memecahkan soal itu, karena dari dulu aku tak pernah menyimak apa yang diajarkan dan hanya belajar pelajarannya waktu les privat, itupun akan terlupakan saat aku bangun tidur di pagi harinya. Kutinggalkan soal itu bersama semua kerumitannya, lalu kutatap kembali bait puisi yang belum selesai kutulis, kuambil pena dari kotak pensil dan siap untuk melanjutkan. Tak ada satu kata terlintas keluar untuk dituliskan. Kupikir lebih keras lagi, namun tetap tidak ada. Hanya butuh satu kata maka lanjutannya akan mudah, tapi tetap saja tidak keluar sama sekali. Kutaruh penaku di atas meja, dan melamun sejenak menenangkan diri. Apakah dia mengharapkan sebuah selamat ulang-tahun dariku, atau malah dia tidak ingin menerima ucapan selamat dariku atau mungkin dia tidak mengurus sama sekali akan hal itu, berdebar hati ini tak karuan, terasa kegugupan yang mendalam dan tiba-tiba saja tanganku sudah berkeringat dingin. Sebuah kado untuknya telah kusiapkan beberapa hari yang lalu. Kubeli hadiah itu di sebuah toko kecil di dekat rumahku. Aku mengenal baik pemiliknya sehingga iapun memberikan diskon pada barang yang kubeli. Memang hadiah yang kuberikan tak seberapa, tapi kuharap dengan ini dia bisa tahu bahwa aku jatuh hati padanya. Hadiah yang akan kuberikan adalah sebuah gelang dan anting-anting berwarna pink kesukaannya. Dan sebuah mawar untuk menambahkan keromantisan didalamnya. Aku juga sudah merencakan bahwa aku akan menyatakan cinta padanya. Tak peduli dia akan menolaknya tapi bila mencoba maka yang didapat akan selalu yang diinginkan. Itulah prinsipku saat ini. Jawaban-jawaban aneh dan tidak masuk akal yang dilontarkan teman-teman kelasku kini mulai berganti menjadi sebuah keramaian layaknya bila tidak ada guru di kelas. Semua berbicara dengan teman sebangkunya, padahal masih ada guru di depan. Kucari-cari dimana guruku, apakah masih di dalam kelas atau tidak. Rupanya guruku kedatangan siswi yang ingin menanyakan sesuatu, tak terlihat jelas dari sini karena siswi tersebut berada di luar kelas. Karena tak ada yang menarik dari perbincangan mereka berdua, kembali lamunan datang menghampiriku, dan kali ini ketika pertama kali aku bertemu dengannya. SMA kelas X, pijakan pertama yang harus kutempuh bila ingin mendapat ijazah tamatan SMA. Dan seperti biasa, MOS adalah kegiatan wajib yang harus dilakukan siswa-siswa baru disana, termasuk diriku. Tak pernah terpikirkan waktu itu aku yang akan menjadi ketua untuk mewakili kelasku. Akupun dipanggil keluar untuk mendengarkan pengaturan tentang apa saja yang nanti akan dilakukan. Saat itulah, pertama kalinya aku melihat wajah cantiknya. Ternyata dia juga terpilih menjadi ketua mendadak ini. Dalam mendengar penjelasan itu konsentrasiku terpecah belah. Antara mendengar penjelasan dari OSIS dan melihat kecantikan yang dipancarkan olenya. Dia yang berada di samping dan walaupun saat itu aku tak mengenalnya, tapi jantungku berdebar keras sampai-sampai aku takut dia dapat mendengarnya."Sudah jelas!" teriak anggota OSIS pada kami.Aku mengangguk tanda mengerti, lalu sekali lagi kuyakinkan diriku ini bahwa dia memang cantik dan memang dia telah menjerat hatiku ini. Akupun pergi kembali ke kelas untuk dijelaskan kembali. Walau tak seberapa mengerti tentang apa yang dikatakan oleh ketua OSIS, akupun menjelaskan sebisaku dan untunglah teman-teman sekelasku mengerti apa maksudku. Dan pada akhirnya aku mengetahui nama dan nomer HPnya dari temanku yang sekelas dengannya. Dan mulai saat itu, aku telah menetapkan bahwa dia harus menjadi milikku. Tak terasa sudah memasuki jam kedua. Guruku masih berada di luar. Kulihat lagi buku tempatku menulis semua curahan hatiku selama ini. Tinggal beberapa lembar lagi buku ini akan habis, dan kuharap di akhir-akhir lembaran-lembaran ini akan terisi puisi-puisi yang menyenangkan dan menyentuh hati bila dibaca. Kulihat lagi langit dan awan di atasku dan seakan-akan mereka memberikan sebuah kata untuk ditulis. Sebuah kata cinta untuk digores di buku. Dengan segera kuambil penaku dan melanjutkan yang belum terselesaikan.------------ Kupastikan esok hari aku akan menjelaskan semua isi hatiku Kupastikan esok hari aku akan menjelaskan seberapa besar aku mencintaimu Dengan ucapan selamat ulang-tahun dan kado lalu sebuah kalimat 'I love You' Kupastikan kau akan mendengar isi hatiku esok hari Tak masalah dimana aku menembakmu Tak masalah bila aku menembakmu dengan gugup ataupun sampai tergagap-gagap Tak masalah jika dirimu bisa mendengar suara degup jantungku berdetak keras Hanya satu yang ingin kau lakukan untukku... Kumohon... Tuk pastikan dirimu... Pastikan bahwa nanti kau pasti akan menerima pernyataan cintaku ini----------- Kutaruh penaku dan melihat kembali kelanjutan bait yang kutuliskan di sana."AMIN, semoga hal ini terwujud." ucapku tegas.Semoga hal ini terjadi padaku dan semoga segala sesuatunya akan berjalan dengan lancar. Setelah yakin bahwa bait yang kutulis sudah sesuai dengan isi hatiku, kututup dan kumasukkan ke dalam tas. Kuarahkan pandanganku arah pintu kelas. Guruku sudah tidak disana lagi. Ternyata guruku dan siswi tersebut sudah berpindah tempat ke meja guru yang berada tepat pada barisanku. Tak kusangka dia berada disini, yang tercantik dan yang kucinta, sedang berbincang-bincang dengan guruku di depan sana. Wajahnya yang serius mendengar penjelasan guru sungguh sangat membuatku semakin jatuh cinta padanya. Bila dilihat-lihat lagi maka aku merasa bahwa aku bisa menjadi pacarnya yang sepadan, yang bila dimasukan dalam kategori pasangan terfavorit maka aku dan dia akan menjadi pasangan terbaik. Tak sengaja mata kami saling berpapasan. Kuharap bahwa itu bukanlah hanya sekedar papasan belaka. Kuharap dia juga menaruh hati padaku. Pandanganku tak bisa beralih kemanapun, hanya menatapnya terus. Meski dia tak menatapku, tapi aku merasa bahwa dia sebenarnya ingin menatapku namun tidak bisa karena guruku masih menjelaskan sesuatu padanya. Kuharap guruku menjelaskan dengan benar. Beberapa menit menjelang bel tanda istirahat, diapun selesai. Dan segera meninggalkan kelasku, tapi sebelum beranjak pergi dia menatapku lagi lalu melambaikan tangannya padaku dan berlari kecil keluar dari kelas."Apakah dia melambaikan tangannya padaku." ujarku penasaran.Terlintas di pikiranku bahaw peluang untuk menyatakan cintaku dan mendapatkan cintanya semakin besar. Meski hanya sebuah lambaian kecil, tapi menurutku itu sudah menyakinkan diriku bahwa nanti ketika hari ulang-tahunnya dia akan mau menerimaku menjadi pacarnya. Bel berbunyi tanda istirahat, tak tahu mengapa, hatiku serasa menyuruhku untuk segera berlari ke kelasnya. Tak tahu pula tiba-tiba kakiku sudah bergerak tanpa perintahku. Kelasnya berada di lorong yang sama denganku. Kulewati dua kelas untuk dapat sampai ke kelasnya. Kuintip lewat sela-sela pintu. Adakah dia disana, atau dia sedang di kantin, atau sedang di perpus. Kugerakan mataku dari baris depan sampai belakang. Dia tak ada di sana, kuulangi lagi dari baris depan, tetap saja tak ada. Kecewa akan hal itu, akupun beranjak untuk kembali ke kelas. Kubalikan badanku untuk kembali, namun tak sengaja aku menabrak seseorang."Maaf ya, nggak sengaja." kukatakan sambil mencari siapakah siswa yang kutabrak."Nggak apa-apa, aku juga tadi nggak hati-hati." katanyaDia yang sedari tadi kucari sekarang sudah ada di depan mata, tanpa peringatan sedikitpun. Tiba-tiba muncul di depan dan dengan wajah polosnya membuatku tak berkutik di depannya. Padahal biasanya aku bisa membuat seorang cewek terpesona dengan ketampan dan gurauanku. Tapi kali ini aku kalah dan dalam hati aku berpikir bahwa yang seperti inilah yang disebut dengan jatuh cinta. Saat cinta itu sedang pergi maka aku akan merindukannya, tapi saat cinta itu datang berkunjung maka aku akan berdiam saja dan tak berani untuk menyambutnya."Eh.... kamu di kelasku mau ngapain?" tanyanya langsung padaku"Aku..... Aku lagi cari temanku, tapi kelihatan dia lagi ke kantin." jawabku asal"Oh.... gitu ya." balasnya"Hmm... Tadi di kelasku kamu ngapain?""Itu aku cuma mau tanya soal aja kok. Tadi aku melambaikan tanganku, kamu kok nggak balas sih?""Wah... Itu karena tadi aku kaget banget, ternyata ada cewek secantikmu yang mau melambaikan tangannya untukku yang buruk rupa ini." gurauku untuk mencairkan suasana."Bisa aja kamu." senyumnya membuatku semakin berani untuk menyatakan cintaku saat itu, tapi aku urungkan niatku karena itu bukan waktu yang tepat untuk menyatakan cinta. Kurang romantis."Kamu besok mau ulang-tahun ya?""Ih... kok tahu sih, kamu dapat bocoran darimana...?" tanyanya penasaran."Yah.. cewek cantik dan terkenal sepertimu semua orang pasti tahu dong ulang-tahunmu kapan." gurauku lagi membuat pipinya merona merah."Iya, besok aku ulang-tahun, kamu udah nyiapin kado buatku nggak?" senyum dengan dua lesung di pipinya membuatku terpesona dan tidak bisa mengalihkan pandangan."Udah dong. Nanti jam 12 malam kamu jangan tidur dulu ya. Aku ada kejutan untukmu. Jangan sampai ketiduran ya. Ya udah aku kembali ke kelas dulu."Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangannya lagi padaku dan sekarang akupun membalasnya. Dia masuk ke kelasnya dan ternyata di duduk baris dua dari belakang dan pada baris kedua dilihat dari pintu masuk. Kulihat dia mengambil sesuatu dari tasnya, sekotak bekal yang dibawanya dari rumah. Sebuah nilai plus untuknya dan sebuah kesamaan untukku, karena akupun juaga membawa bekal dari rumah. Tersenyum sendiri akupun beranjak pergi kembali ke kelas untuk memakan bekal makananku. Sambil makan aku memasang I-Pod di telingaku dan mendengar lagu yang cocok untukku sekarang ini. Lagu dari Westlife-Close. lalu kukeluarkan lagi buku puisiku dan menulis lagi sebuah bait.------------- Tak pernah aku sedekat ini dengannya Berbicara dengannya, walaupun hanya tiga menit Tapi dapat meluluhkan hati ini sampai tak berkutik didepannya Sudah lama aku tak merasakan cinta yang seperti ini Bisakah kali aku mendapatkan cintanya Tolong berikan aku kekuatan Tolong berikan aku harapan Untuk kau ketahui... Dan... Untuk aku ketahui... Bahwa kita saling mencintai satu sama lainSebuah lirik dari yang melantun indah dan meresap lekat dijiwaku saat ini. I Never been... Never been... This Close...------------30 Januari, 11:50 Kamar 10 menit lagi aku akan meneleponnya untuk mengucapkan selamat ulang-tahun dan kalau suasana memadai aku akan menyatakan cintaku."Aku sangat mencintaimu, maukah kau menerimaku...""Sudah sejak dulu aku memendam perasaan ini. Aku jatuh cinta padamu...""Ada yang ingin kutanyakan, aku cinta padamu, apakah kau juga mencintaiku...""Suasana sunyi dan romantis di malam ini. Ada yang ingin kusampaikan, Aku cinta padamu..."Berbagai kalimat sudah kucatat untuk nanti dipilih mana yang paling cocok. Tinggal lima menit lagi aku akan menelepon dia. Diatas meja belajarku juga sudah ada sebuah kotak lucu berbentuk kubus dengan pita pink di atasnya. Gelang dan anting-anting pink sudah ada didalamnya siap untuk diberikan tapi belum siap untuk dinyatakan. Besok hadiah itu akan kuserahkan untuknya bila aku cukup berani menyerahkannya. Kuambil telepon disamping meja belajar. Kutatap lekat-lekat tombol-tombol yang ada. Cukup menekan 7 tombol yang tepat maka suara yang ingin kudengar akan terdengar di ujung sana. Akhirnya kutekan satu demi satu tombol tersebut perlahan-lahan, dan ketika selesai menekan kudekatkan ke arah telinga. Terdengar nada yang panjang. Teleponku tidak tersambung. Kuulangi lagi dan lagi, namun tetap saja tidak bisa. Dan pada akhirnya jam sudah melewati angka 12. Tak ada yang bisa kulakukan. Detik demi detik berlalu dan dalam kejengkelan akupun membuang catatan pernyataan cintaku ke tempat sampah dan memejamkan mata untuk menenangkan diri."Cobalah sekali lagi...."Suara entah dari mana datangnya membuatku terkejut. Segera kuraih telepon dan kucoba lagi. Tersambung. Dan terangkat."Halo, ini kamu ya, kok telat sih teleponnya.""Loh kok tahu ini aku. Yah tadi aku telepon nggak nyambung-nyambung.""Terus sekarang udah nyambung, kamu nggak mau bilang apa-apa ta?" tanyanya cepat"Oh ya.. Selamat ulang-tahun ya. Happy birthday. Semoga tambah cantik dan terkenal. Cepat dapat pacar. Dapat nilai bagus. Dan bisa naik kelas." kataku sambil tersenyum."Makasih, kamu jangan bilang aku cantik terus dong. Aku jadi malu nih." diapun tertawa "Mau gimana lagi, kamu memang cantik dan aku kan nggak suka bohong." gurauku lagi"Ada satu lagi yang mau kukatakan..." Kudatangi tempat sampah tempat kubuang catatanku tadi, kuambil dan kupilih mana yang cocok."Aku...Aku...."Gugup merasuki diriku dan keheningan menghampiri. Tak ada yang berbicara sama sekali, aku juga tak tahu apakah dia sudah tahu bahwa aku akan menyatakan cintaku. Hening berlangsung lama sekali. Akupun masih bimbang apakah aku akan menyatakan cintaku sekarang atau besok saja. Karena terlalu lama mungkin, akhirnya dia mengisi keheningan ini."Aku baru ingat, besok kamu ke kantin ya. Aku akan merayakan ulang-tahunku disana. Aku traktir loh. Nanti setelah pulang sekolah ya. Kutunggu.""Oh pasti aku akan datang. Pasti." jawabku percaya diri."Ya udah kalau gitu, udah malam, nanti kita nggak bisa bangun lagi. Makasih ucapan selamatnya. Dah."Dan teleponpun terputus. Aku hanya bisa termenung dan mengembalikan telepon pada tempatnya. Duduk dan mengambil buku puisi. Sudah mau habis, tinggal 2 lembar. Kuambil penaku dan mulai menulis.--------------- Malam yang aneh Tak ada keberanian untuk mengatakan 'I love You' Malam yang sunyi Tak ada kata-kata yang sesuai untuk dikatakan Malam yang dingin Tak ada rasa ngantuk di mata ini Malam sudah jadi pagi Mungkin sudah waktunya untuk menulis kata-kata yang ingin dikatakan Malam sudah jadi siang Mungkin sudah waktunya aku mengatakan "I Love You" Malam sudah jadi malam lagi Sudah pasti aku menjadi pacarnya.-------------31 Januari, 13:35 Kantin Hiruk-pikuk selalu saja menjadi suasana yang biasa didengar di area kantin sekolah. Siswa yang sedang mencari makan, siswa yang menjomblo ataupun siswa yang berpacaran akan menghabiskan waktu mereka di tempat ini, terutama pada jam pelajaran usai. Mereka yang sedang kasmaran akan duduk menyudut untuk memperoleh kesendirian dan kemesraan mereka. Para jomblo akan mengisi area tengah kantin dan berbincang dengan jomblo lainnya. Sedangkan yang hanya ingin makan akan mengambil tempat di tengah kedua kubu tersebut. Menyantap makanan mereka lalu setelah selesai akan segera beranjak pergi. Itulah kegiatan sehari-hari dari kantin, namun kali ini kantin akan menjadi tempatku untuk menyatakan cinta. Memang aku sangat jarang pergi ke kantin karena aku membawa bekal sendiri, tapi kuharapkan kantin mau membantu untuk satu ini. Dan kuharap juga dia mau menerimaku menjadi pacarnya yang setia. Jam sekolahpun telah usai dan kini aku sedang duduk termenung menunggu dia datang untuk merayakan ulang-tahunnya. Sebotol coca-cola menemaniku dengan gelembung-gelembung sodanya yang naik terus. Kuhirup sekali-kali untuk mengurangi ketegangan dalam hati ini. Kuperiksa lagi kado yang nanti akan kuberikan padanya. Masih kotak dengan pita pink di atas. Kuambil dan kugerakan pelan. Masih gelang dan anting-anting pink kesukaannya. Tak ada yang berubah. Tapi aku merasa ada yang kurang, sesuatu yang belum kubawa. Kulihat lagi penampilan diriku. Masih tampan seperti biasanya. Kulihat seragamku. Masih rapi dan keren. Tapi masih ada yang kurang. Kulihat catatanku, masih ada tersimpan dalam saku seragamku. Segera kuperiksa ulang semua persiapan pernyataan cintaku. Kado pita pink dengan gelang dan anting pink kesukaannya. Catatan pernyataan cinta. Wajah yang tampan .Seragam rapi dan keren. Dan setangkai mawar...."Oh ya aku lupa!!! Setangkai mawar untuk menambah keromantisan." kutepuk dahiku jengkelSegera kukembalikan kado dan catatanku dan segera melesat pergi ke toko bunga untuk membeli setangkai bunga mawar. Kulewati area kantin sambil mencari-cari dimana dia akan merayakan ulang-tahunnya. Namun sejauh mata memandang tak ada tanda-tanda ada orang yang sedang merayakan ulang-tahun. Kutinggalkan sejenak pencarian itu dan segera melesat ke tempat parkir. Ku-starter sepeda motorku dan segera tancap gas menuju toko bunga.31 Januari, 14:20 Toko Bunga Kutatap jam itu terus-menerus. Detik demi detik terlewati dengan mudah tanpa ada halangan. Jarumnya seakan-akan terus menghantuiku untuk segera cepat-cepat kembali ke kantin. Kulihat sekeliling untuk mencari bunga mawar. Kutemukan dan segera kuambil satu untuk dibawa ke kasir. Ketika berjalan ke arah kasir kulihat sebuah pesan tertempel di dinding belakang kasir tersebut."UNTUK PEMBELIAN 14 MAWAR SEKALIGUS AKAN MENDAPATKAN DISKON"Kubaca dan kupikir-pikir bila saja aku membawa 14 mawar kepadanya apakah dia mau menerimanya, ataukah akan terlihat norak di depannya. Keringat terus bercucuran membasahi seragamku. Kenapa harus 14 mawar, kenapa tidak 5 mawar saja, apakah karena sebentar lagi akan Valentine Day, umpatku dalam hati. Kepalang tanggung memikirkan hal itu, kurahkan kakiku ke tempat tadi aku mengambil setangkai mawar. Kuambil langsung segenggam tanpa menghitung berapa mawar yang telah kuambil. Kembali ke kasir untuk membayar."Wow, banyak sekali mawarnya, buat siapa nih?" tanya pejual penasaranAku tak menjawab dan hanya tersenyum padanya."Hmm... Semuanya 28 tangkai buah dan mendapat diskon 20%." senyumnya padakuAkupun kaget mendengar berapa tangkai mawar telah kuambi. Tapi karena waktu terus mengingatkanku untuk segera secepatnya kembali ke sekolah akupun menyerahkan padanya sejumlah uang yang tercantum pada layar kasir."Terima kasih banyak. 14 mawar pertama anda mendapat diskon, sedangkan 14 mawar kedua anda mendapat sebuah kartu dan pena untuk dituliskan dan diletakkan pada mawar tersebut." diserahkannya pena dan kartu itu sambil tersenyum.Segera setelah mengucapkan terima kasih, aku keluar dari toko bunga dan segera tancap gas lagi untuk kembali kesekolah. Terbesit di dalam pikiranku apakah dia masih ada di sekolah. Dan apakah dia masih menanti kedatanganku ini. Kuterobos lampu merah yang ada agar cepat sampai di sekolah dan berharap dia masih ada disana.31 Januari, 16:00 Kantin Matahari sudah mulai membenamkan dirinya. Kuparkir sepeda motorku dengan susah payah karena aku masih harus memegang 28 tangkai bunga mawar. Berlari menuju ke arah kantin tak ada satu orangpun yang kutemui. Sunyi senyap. Tak ada seorangpun. Dan kusadari bahwa dia juga sudah tak ada di sana. Lemas rasanya. Semua persiapan pernyataan cintaku hancur. Tak ada gunanya. Seharusnya tadi aku tak perlu untuk membeli bunga-bugna ini, dan kalaupun aku beli seharusnya aku tak usah membeli sampai sebanyak ini. Ingin rasanya kubuang dan kuinjak-injak mawar-mawar ini. Air mataku sudah mau keluar dan sebuah suara menyentakku kaget."Kamu cari siapa? Yang ulang-tahun sudah selesai."Kubalikkan badanku dan lega rasanya. Dia masih disini, masih cantik, masih lucu, masih imut dan dia masih menungguku datang."Kukira kamu sudah pulang. Maaf ya aku telat." kuusahakan seulas senyum padanya dan berusaha untuk menahan air mataku agar tidak keluar."Nggak apa-apa kok. Kamu udah janji akan datang. Jadi aku juga janji pada diriku sendiri akan menunggu tamu ulang-tahunku sampai datang." diapun membalas senyumku.Teringat akan kado untuknya. Segera kubuka tasku dan dengan cepat kukeluarkan kado pita pink untuk keserahkan padanya."Wah... Makasih ya... Warna kesukaanku lagi. Boleh dibuka sekarang nggak?" tanyanya manja."Boleh. tapi habis dibuka harus langsung dipake ya. Nggak boleh nggak."Dibukanya kado itu pelan-pelan dan dikeluarkannya gelang dan anting-anting pink itu. Diapun berteriak kegirangan, dan dipakainya segera. Berposelah dia depanku. Cantik dan imut. Senyumnya padaku membuatku tak bisa memalingkan wajahku. Gelang di tangannya menambah kelentikan jari-jarinya dan anting-anting serta lesung pipinya akan membuat ia semakin cantik."Kamu cantik sekali setelah memakai hadiahku loh. Selamat ulang-tahun ya." ucapku spontan"Sudah dibilangin jangan bilang aku cantik terus dong, aku kan jadi malu." mukanya memerah.Terjadi keheningan sejenak, tak ada yang tahu harus bicara apa. Dan kurasakan bahwa ini saat yang tepat untuk menyatakan cintaku. Baru saja aku ingin memulai tapi dia bicara dulu."Mawar sebanyak itu buat apa?""Oh... Ini...ini... buat kamu." kuserahkan mawar itu malu-malu"Buat aku, makasih ya. Kamu ternyata romantis banget."Diambilnya mawar itu dari tanganku dan dilihatnya bahwa di sana ada kartu. Diambilnya dan dibukanya kartunya."Loh kok kosong isinya?" tanyanya bingung"Oh itu tadi aku buru-buru beli mawar jadi belum sempat diisi. Sini aku isi dulu."Kuambil pena dari saku seragamku. Kubuka kartu itu dan kutuliskan perasaanku.------------- Sudah lama kupendam perasaan ini padamu Aku juga sudah mencoba memberimu sinyal cintaku padamu Tak tahu apakah kamu bisa merasakannya Kini aku sudah malas untuk memberikan sinyal-sinyal itu Sehingga langsung saja kukatakan padamu. AKU SANGAT MENCINTAI DIRIMU AKU CINTA PADAMU Maukah kau menjadi pacarku? Kutunggu jawabannya setelah kau membaca tulisan ini Dan bila kau mau menerima cintaku, Maka sebagai tambahannya akan kuantar kau pulang nanti ^_^----------- Kuserahkan kartu itu dan dibacanya lama-lama. Setelah itu diapun menangis dan memelukku erat."Setelah acara ulang-tahunku selesai jangan lupa antar aku pulang ya.""Tentu saja, sayang." jawabku sambil membalas pelukannya.FIN CreateD_CirE
|
