
Hari ini aku bahagia sekaliKarena bisa berbicara dengan diaTak mudah memang...Karena dia bukan wanita sembaranganHatinya tak luluh hanya dengan ketampananHatinya tak luluh dengan uangHatinya tak luluh dengan apapunHatinya hanya luluh dengan cinta dan ketulusan hati...-----------Musim kemarau sudah datang. Daun-daun di depan rumahku mulai berguguran dan mengubah jalanan menjadi warna coklat. Kini aku sedang duduk termenung menatap keluar jendela. Kulihat ke arah awan putih bersih di atas sana, walau tak sama dengan yang ada di sekolah tapi tetap memberikan inspirasi bagiku. Kutatap telepon di depanku, haruskah aku menelepon dia, tanya diriku sendiri. Tak urung waktu terus berlalu tanpa menungguku mengambil keputusan menelepon atau tidak. Kutelepon saja pikirku, tapi belum sempat mengambil gagang telepon aku kembali termenung, terlintas sebuah kalimat yang cocok untuk puisi yang baru kutulis.-----------Tak bisa lebih dekat dari iniTak bisa lebih lucu dari iniTak bisa terlalu dekatKarena aku takut, takut kamu mendengar degup jantungkuDan mengetahui bahwa sebenarnya aku sangat mencintai dirimu...-----------Tersenyum simpul membaca kalimat-kalimat yang baru kubuat ini tak sadar ibuku sudah memanggilku turun untuk makan pagi. kututup buku rahasia cintaku dan kutaruh di tas tuk dilanjutkan di kelas nanti. Turun melangkahi dua anak tangga sekaligus membuat ibuku marah-marah tapi aku biarkan saja namanya juga anak muda. Setelah sarapan pagi dan pamit dengan ibu akupun berangkat sekolah. Ketika di luar rumah aku teringat bahwa aku baru saja dibelikan sepeda motor oleh ayahku, jadi aku kembali ke rumah mengambil kunci sepeda motor dan langsung tancap gas.-----------Tak terasa aku akan bertemu dengannya lagiApakah aku bisa bicara dengannya sekali lagiSemoga Tuhan mendengar permintaanku yang satu ini-----------Aku duduk di tempatku, di pojok kelas dekat jendela dan dengan awan yang indah di atasnya. Warnanya membawaku ke dalam suasana yang nyaman yang membuatku dapat menulis puisi-puisi di buku ini. Dan jam-jam seperti inilah yang paling tepat, karena waktu lainnnya akan sangat ramai oleh ulah teman-temanku dan pada saat pelajaran aku pasti dimarahi. Jadi selagi kelas masih sepi, (dia belum datang, dia datang selalu tepat masuk bel masuk sekolah) aku mengeluarkan buku dan menulis lagi.----------Cepatlah datang...Aku sudah tak sabar menunggumuMelihatmu senyumMelihatmu bercandaMelihatmu tertawaDan tentu saja melihatmu tersenyum pada diriku iniSudah lama aku menaruh hati padamuDan hal ini baru terwujud sekarangTak akan kulewatkan kesempatan iniTuk mendapatkan dirimu----------Bel berbunyi tanda masuk. Kumasukkan semuanya dan melihat sekililing. Dia baru saja masuk ke kelas dan melihatku sekilas. Tak tahu mengapa aku merasa bahwa dia memang mencariku tapi setelah itu dia memalingkan wajahnya dan langsung menuju ke bangku tempat dia duduk. Dia duduk pada baris ketiga dari kiri dan bangku kedua dari belakang. Dari tempat dudukku aku bisa melihatnya dengan jelas. Wajahnya yang cantik, lebih tepatnya karakter wajahnya yang unik membuatku bisa sampai seperti ini. Kutatap dia selagi ada waktu. Tak sadar dia sudah menatapku balik. Karena sudah terlanjur ketangkap basah kuteruskan tatapku padanya."Kenapa?" tanya dengan dengan nada bingung"Nggak apa-apa." kujawab sambil menggelengkan kepalaLalu diapun kembali menatap ke arah papan tulis. Terbayang kalimat baru lagi untuk di tulis di buku puisi.-------------Sebuah pembicaraan dengannyaHanya sedikit memangTapi, paling tidak membuatnya ingat padaku sekian detikApa yang akan terjadi setelah ini...Aku tidak tahuTapi yang kutahu bahwa aku memang sangat mencintai dia...-------------Pelajaran Fisika merupakan pelajaran yang membosankan. Semua anak-anak sangat membenci pelajaran ini karena dirasa sangat sulit untuk diterjemahkan. Tapi untuk hari ini, pelajaran Fisika merupakan pelajaran yang paling disukai karena guru Fisika kami tidak masuk dan tak ada latihan yang diberikan. Semua anak-anak berpindah tempat ke kelompoknya masing-masing untuk ngerumpi bareng-bareng. Aku yang kurang suka bergaul hanya duduk di kursiku dan kembali menulis puisi.-----------Awan putih di atas sampai sekarang juga akan tetap berwarna putihKursi pojok ini sampai sekarang juga akan menjadi tempat favoritkuDan cinta di hatiku ini sampai kapanpun juga akan tetap di hatimu...----------Kutuliskan sebuah nama pada puisi yang satu ini, tapi belum sempat kuselesaikan, dia datang menghampiriku. Menatapku dan buku yang kupegang..."Apa itu, boleh lihat nggak?""Nggak boleh karena ini rahasia." jawabku"Memang ada apa di sana?""Tidak ada apa-apa kok." mulai gugup aku dibuatnya"Kalau tidak ada apa-apa berarti boleh lihat dong." tersenyum dia padaku"Kalau gitu buku ini ada apa-apanya dan kamu nggak boleh lihat."Lama kami saling bertatapan. Tak ada yang bicara setelah itu, hanya saling menatap."Kenapa?""Nggak apa-apa." kujawab sama seperti tadi waktu renungan"Kenapa sih nggak mau kasih tahu.." cemberut dia padaku tapi masih terlihat cantik"Karena ini belum waktunya kamu tahu.""Tahu apa." tanyanya cepat"Tahu sesuatu yang akan membuatmu kaget nantinya."Karena jengkel diapun meninggalkanku dan sampai pulang sekolahpun aku sama sekali tak bicara dengannya.Hari ini aku tidak langsung pulang ke rumah, aku masih harus tinggal di sekolah untuk melaksanakan extrakurikuler. Dan extrakurikuler yang kuambil adalah Band. Karena jam extrakurikuler masih lama, sekitar 30 menit lagi, akupun pergi ke kantin untuk mencari makan. Kubeli 1 porsi nasi campur kesukaanku dan sebotol aqua. Karena ini jam pulang sekolah maka mudah untuk mencari tempat duduk kosong. Aku sendiri di sana, tak ada siapa-siapa, hanya dua orang yang lagi bermesaraan di pojok kantin. Seorang siswa sedang mendengarkan musik sambil makan camilan dan seorang siswi yang baru saja pergi dari kursi tempat ia makan. Karena tak ada hal yang menarik, ku lanjutkan makan nasi campurku dengan lahap tanpa mempedulikan keadaan sekitar.Jam extrakurikuler sudah datang, aku segera naik ke lantai 3 menuju ke ruang musik. Band yang aku gandrungi ini lumayan asik dan aku memegang pada Bass. Musik demi musik kumainkan bersama teman-teman bandku dan berakhir pada pukul 4.00 sore. Selesai merapikan semua alat-alat musik akupun segera menuju ke arah tempat parkir karena masih banyak tugas yang menungguku di rumah.Kustarter sepeda motorku dan melesat melewati pintu gerbang. Baru saja aku ingin mempercepat laju kendaraanku, tapi terpaksa harus kuhentikan. Di depan jalan ada dia yang sedang membelakangiku."Apa yang harus kulakukan bila melewati dia?" tanyaku pada diriku sendiri"Menyapanya?""Senyum padanya?""Dibiarkan saja?""Pura-pura nggak lihat?""Atau apa!"Kesal pada diriku ini, akupun terpaksa melajukan sepeda motorku pelan-pelan mendekati dia. Semakin dekat dan saat suara mesin motorku sudah mencapai telinganya, diapun berbalik dan menatapku lagi. Lama sekali..."Kenapa?" tanyanya kembali"Nggak apa-apa." kujawab lagi dengan jawaban yang sama"Kok gitu sih, yang lain dong jawabannya." bentaknya padaku"Yah gimana lagi, memang nggak ada apa-apa kok.""Terus kenapa berhenti di sini.""Karena ada sesuatu...""Itu berarti ada apa-apa ya to.." selanya"Ya..ya.. aku cuma mau nawarin kamu.""Nawarin apa?""Kamu mau nggak aku antar ke rumahmu?""Hmm.... rumahku jauh loh, nggak apa-apa nih?""Tenang aja, bensin masih banyak. Mau nggak?" penasaran aku menunggu jawabannya"Boleh lah.." dia tersenyum padaku dan sangat cantikAkhirnya dia naik dan kutancap gasku pelan-pelan agar kami bisa mengobrol lama. Aku tak ingat obrolan kami waktu di sepeda motor itu, tapi yang kuingat adalahketika dia tersenyum aku yakin bahwa di tersenyum hanya untukku.7.00 malam. Aku tiba di rumah. Kutaruh sepeda motor di teras depan. Masuk ke rumah dan mendengar ibuku mengomel kenapa aku pulang larut malam. Namun kuiya-iyakan saja dan naik ke kamarku di atas. Kututup erat pintu kamarku dan segera kembali duduk termenung di depan jendela. Kali ini awan berwarna hitam kelam. Kuhembuskan napas panjang dan melihat ke arah telepon."Apakah ini saat yang tepat untuk menelepon dia?"Kuambil gagang telepon dan mulai menekan tujuh tombol yang selama ini kuharap dapat kutekan."Halo." terdengar suara di ujung sana"Halo juga." kujawab malu-malu"Oh kamu... Kenapa?""Nggak apa-apa...""Kalau nggak apa-apa kenapa telepon ya to.." nada jengkel mulai keluar dari mulutnya"Aku juga nggak tahu, tiba-tiba aku sudah menelepon dan tiba-tiba aku sangat ingin melihatmu senyum padaku. Hanya untukku."Tak terdengar suara sama sekali waktu itu, kukira dia marah besar dan menutup telepon. Namun terdengar suara lagi..."Oh... kalau gitu lain kali antarin aku lagi ya."Sebuah jawaban yang tak terduga, yang artinya memberikan jalan untukku menjadi pacarnya. Tak begitu ingat tentang percakapan tersebut, namun aku masih ingat dengan puisi yang kutulis ketika aku selesai bertelepon ria dengannya.------------------Ternyata,Cinta tak selalu sakitCinta tak selalu sendiriCinta tak selalu sepiDan...Cinta tak selalu menyedihkanYang kualami sekarang iniMungkin hanya seperti cerita-cerita kebanyakan orangYaitu cerita berakhir Happy-EndingTapi bila dikenang lagi, maka ini bukanlah cerita yang Happy-Ending sajaKarena ini merupakan cerita yang akan kurindukan setiap saat bertemu dengannyaWaktu kukatakan apa yang kupendam selama ini padanyaDan ketika dia mengatakan iya padakuHatiku berbunga-bungaKarena mulai dari sekarangBukan hanya satu orang saja yang tahu bahwa aku sangat mencintai diaTapi sekarang sudah menjadi dua orang yang tahu bahwa...Kami saling mencintai satu sama lainDan pada akhirnya...Nama yang belum sempat kutuliskanKutulis dengan tegas dan jelasDan...Walau dihapus akan tetap berbekasSebuah nama yang tak akan pernah kulupakan selamanya...Cinta.FIN
|
